- Home
- /
- New Economy
- /
- Energi
Dari Ancaman PETI ke Pertanian Produktif, Taruna Muda Kelola Laba Rp246 Juta
Kredit Foto: Istimewa
Upaya pencegahan Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di Desa Kalongliud, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor, ditempuh melalui penguatan sektor pertanian. Wahyudin (36), pemuda setempat, memimpin revitalisasi 35 hektare lahan tidur bersama Kelompok Taruna Muda sejak 2022.
Langkah ini berangkat dari kekhawatiran meningkatnya aktivitas PETI akibat keterbatasan lapangan kerja dan kerusakan infrastruktur irigasi pascabencana 2020.
“Kekhawatiran atas banyaknya lahan tidur dan terbatasnya lapangan pekerjaan menjadi penggerak saya untuk berkontribusi di Kalongliud. Saya khawatir, jika tidak ditangani segera, akan banyak masyarakat yang beralih menjadi PETI,” kata Wahyudin.
Ia menegaskan, penanganan PETI tidak cukup dengan penertiban semata.
“Pencegahan PETI tidak cukup hanya dengan penertiban. Masyarakat butuh alternatif ekonomi yang lebih aman dan layak,” tegasnya.
Sejak bergabung dalam program inovasi sosial Garitan Kalongliud yang diinisiasi PT ANTAM Tbk UBPE Pongkor pada 2022, kelompok tersebut mengembangkan sistem pertanian berbasis efisiensi biaya dan inovasi lokal. Wahyudin menginisiasi produksi Pupuk Organik Cair (POC) Beko dari fermentasi keong mas dan urin domba, serta memanfaatkan 25 ton limbah kotoran domba sebagai pupuk organik.
Inovasi tersebut mampu memangkas biaya pupuk hingga 50 persen. Untuk mengatasi keterbatasan air, kelompok juga menerapkan sistem irigasi tetes sederhana yang menghemat penggunaan air sampai 60 persen.
Di sisi hilir, Kelompok Taruna Muda memutus ketergantungan pada tengkulak dengan menjual hasil panen langsung ke Pasar Induk Kemang dan Kramat Jati. Dampaknya, pendapatan kelompok tani meningkat 65 persen. Sepanjang 2024–2025, unit usaha cabai mencatatkan laba bersih Rp246.258.000.
“Program ini menjadi jaring pengaman sosial bagi anggota kelompok sebagai penerima manfaat langsung, maupun bagi masyarakat lainnya. Yang paling membanggakan, 8 mantan pelaku PETI kini telah beralih menjadi petani produktif,” ujar Wahyudin.
Baca Juga: Gen Z Mulai Lirik Emas, Ini Tips Investasi yang Paling Masuk Akal
Secara keseluruhan, program kolaboratif tersebut mencatatkan nilai Social Return on Investment (SROI) sebesar 4,34 dan berkontribusi menurunkan tingkat kemiskinan desa sebesar 6,52 persen. Atas inisiatifnya, Wahyudin menerima penghargaan Environmental and Social Innovation Award (ENSIA) 2025 kategori Local Hero Inspiratif.
Program ini juga mendorong regenerasi petani muda melalui Rumah Belajar Garitan yang telah dikunjungi 696 orang. Salah satu petani muda, Atang Sujai, kini aktif mengembangkan formula pupuk organik untuk diterapkan di desa sekitar.
“Kalau kita merawat tanah dengan hati, tanah akan merawat kehidupan kita. Dan kalau kita bergerak bersama, desa ini akan selalu punya harapan,” tutup Wahyudin.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Amry Nur Hidayat
Tag Terkait: