Gen Z Mulai Lirik Emas, Ini Tips Investasi yang Paling Masuk Akal
Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Minat investasi emas untuk Gen Z mulai meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Di tengah ketidakpastian ekonomi global dan fluktuasi pasar keuangan, emas kembali dilihat sebagai instrumen lindung nilai atau safe haven yang relatif stabil.
World Gold Council mencatat bahwa permintaan emas cenderung meningkat saat kondisi ekonomi global sedang tidak stabil. Pada tahun 2024, permintaan emas mencapai lebih dari 4.974 dan meningkat menjadi 5.002 ton di tahun 2025 dengan harga yang lebih tinggi.
Lalu, kenapa Gen Z mulai melirik emas? Apakah instrumen ini benar-benar cocok untuk profil risiko anak muda?
Kenapa Gen Z Mulai Tertarik Investasi Emas?
Ketertarikan Gen Z pada emas sebagai instrumen investasi tidak hanya sekadar tren media sosial. Ada sejumlah faktor ekonomi dan psikologis yang mendorong anak muda mulai mempertimbangkan emas sebagai bagian dari portofolio investasi.
1. Inflasi, FOMO, dan Fear of Recession
Fluktuasi harga barang dan jasa dalam beberapa tahun terakhir membuat isu inflasi semakin menguat. Melansir BPS, Indonesia mengalami inflasi sebesar 2,92 year-on-year (y-on-y) pada Desember 2025. Bank Indonesia menyebut inflasi terjadi akibat faktor global dan domestik. Dalam kondisi seperti ini, emas sering dianggap sebagai aset pelindung nilai terhadap inflasi.
Selain itu, fenomena Fear of Missing Out (FOMO) juga berperan. Ketika harga emas mencetak rekor baru secara global, banyak investor pemula terdorong ikut masuk pasar. Misalnya, pada 29 Januari 2026 harga emas sempat mencapai Rp3.168.000 per gram.
Fenomena “Mantap” alias “Makan Tabungan” juga turut mempengaruhi pandangan Gen Z mengenai keuangan. Meski beberapa indikator nasional menyebut ekonomi nasional berjalan baik, tetapi fenomena anak muda yang “Memakan Tabungan” untuk kehidupan sehari-hari menciptakan fear of recession dan dipandang terkait dengan penurunan PDB, peningkatan pengangguran, dan penurunan daya beli masyarakat.
2. Emas vs Instrumen Digital yang Volatil
Banyak Gen Z yang sebenarnya lebih familiar dengan aset digital seperti saham teknologi atau kripto. Namun, volatilitas tinggi di pasar kripto belakangan membuat anak muda mencari instrumen alternatif yang lebih aman. Seperti diketahui, Bitcoin pun tak terlepas dari volatilitas dan bahkan tercatat turun lebih dari 21 persen yoy per 17 Februari 2026.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Amry Nur Hidayat