Dana Rp200 T Mengendap di Himbara Dinilai Efektif Tekan Bunga Kredit
Kredit Foto: Istimewa
Chief Economist PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, Andry Asmoro, menilai perpanjangan tenor penempatan dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) sebesar Rp200 triliun di bank-bank Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) hingga September 2026 berpotensi menjadi katalis percepatan penurunan suku bunga kredit.
“Itu jadinya. Jadi, kalau lihat dari, apa, sisi positif dari perpanjangan penempatan dan SAL tadi adalah ujungnya harusnya bisa mendorong penurunan suku bunga kredit,” kata Andry, yang akrab disapa Asmo, di Jakarta, dikutip Jumat (27/2/2026).
Ia menjelaskan, perpanjangan penempatan SAL berpotensi menurunkan tensi perebutan likuiditas di perbankan besar, khususnya kelompok bank KBMI IV. Jika kompetisi penghimpunan dana mereda, maka suku bunga dana pihak ketiga (DPK) berpeluang ikut turun, sehingga membuka ruang penurunan suku bunga kredit.
Baca Juga: OJK Ungkap Perpanjang Penempatan Dana Rp200 Triliun Bakal Turunkan Suku Bunga Kredit Perbankan
“Nah, kalau misalnya perebutan dananya makin kecil, kemudian kan ada tensi untuk penurunan dari suku bunga DPK-nya tadi. Harusnya kalau suku bunga DPK-nya turun, harusnya bunga kredit juga turun,” tuturnya.
Menurut Asmo, margin bunga bersih (net interest margin/NIM) perbankan secara historis juga mulai menunjukkan tren penurunan. Dengan demikian, jika suku bunga DPK turun, maka bunga kredit seharusnya ikut menyesuaikan.
“Transmisinya, tapi, lihat ya. Transmisinya penurunan, apa, penempatan SAL, terus kemudian tensi likuiditas perebutan likuiditasnya makin turun, DPK ratenya juga ikutan turun, dan di ujungnya kemudian nanti tensi dari, untuk penurunan kreditnya juga akan bisa terjadi lagi,” jelasnya.
Namun demikian, Asmo menilai penurunan bunga kredit tidak akan terjadi secara signifikan seperti pemangkasan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI-Rate).
“Ya, mungkin, bayangan saya, nggak akan sebesar kemudian penurunan BI rate. Kemungkinan nggak sebesar penurunan BI rate, karena tetap ada inelasticity-nya tadi,” pungkasnya.
Asmo juga menyoroti tantangan dari faktor global. Saat ini, suku bunga pasar internasional justru cenderung meningkat, tercermin dari imbal hasil (yield) obligasi global yang berada di kisaran 6,4–6,5%. Kondisi tersebut membuat penurunan bunga kredit domestik sulit berlangsung agresif.
Baca Juga: Purbaya Perpanjang Penempatan Dana Rp200 triliun, Bank Mandiri Nilai Redakan Persaingan Likuiditas
Tren penurunan bunga kredit perbankan dinilai masih lamban meski Bank Indonesia telah memangkas BI-Rate sebesar 125 basis poin sepanjang 2025 menjadi 4,75%.
Berdasarkan data BI, suku bunga kredit hanya turun sekitar 40 basis poin, dari 9,20% pada awal 2025 menjadi 8,80% pada Januari 2026. Kondisi ini mencerminkan transmisi pelonggaran kebijakan moneter ke sektor riil yang belum sepenuhnya optimal.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Cita Auliana
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: