Pengusaha Soroti Perang AS-Israel dan Iran, Industri Energi hingga Haji jadi Perhatian
Kredit Foto: Istimewa
Ketegangan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang memanas dalam beberapa waktu terakhir turut menjadi perhatian serius kalangan dunia usaha di Indonesia. Kekhawatiran akan dampak ekonomi global hingga sektor ibadah umat Islam pun mengemuka.
Hal tersebut mengemuka dalam acara Buka Puasa (Bukber) Kebangsaan yang digelar oleh Aliansi Wirausaha Kebangsaan Indonesia (AWKI) bersama para pengemudi ojek online (ojol) di Kota Tangerang Selatan, Minggu (1/3/2026). Dalam kesempatan itu, jajaran pembina AWKI menyuarakan sikap tegas Indonesia terhadap konflik serta menyoroti potensi dampaknya terhadap perekonomian nasional.
Dewan Pembina AWKI, Komjen Polisi Yudhiawan, menegaskan bahwa Indonesia sebagai negara yang cinta damai sudah semestinya mengutuk keras segala bentuk peperangan.
"Tentu saja negara Indonesia, negara cinta damai. Kita mengutuk segala jenis peperangan," ujar Yudhiawan di hadapan awak media.
Menurutnya, konflik bersenjata tidak hanya menimbulkan korban jiwa dan kerugian materi, tetapi juga membawa dampak luas terhadap stabilitas ekonomi global.
"Peperangan itu akibatnya pasti nyawa, harta, dan benda. Jadi makanya Indonesia harus ada peran aktif. Apalagi kita negara yang bebas aktif," katanya menekankan pentingnya diplomasi Indonesia di kancah internasional.
Yudhiawan juga menyoroti kemungkinan terganggunya sektor pelayanan ibadah, terutama haji dan umrah, yang notabene sangat bergantung pada stabilitas keamanan di kawasan Timur Tengah.
"Kita khawatirkan, keberangkatan umroh dan haji bisa tertunda. Itu akan membawa dampak bagi pemerintah juga," jelasnya.
Senada dengan Yudhiawan, Dewan Pembina AWKI lainnya, Mayjen TNI (Purn) Ridho Hermawan, menyoroti secara spesifik ancaman di Selat Hormuz. Jalur perairan tersebut merupakan titik krusial bagi pasokan energi dunia yang kini menjadi perhatian karena ketegangan dengan Iran.
"Kita tahu semua bahwa pada saat ini, Selat Hormuz itu kan sekarang diblokade, dikuasai oleh Iran," ujarnya.
Ridho menjelaskan bahwa hampir 20 persen perdagangan Liquefied Natural Gas (LNG) dan minyak dunia melewati jalur strategis tersebut. Gangguan di titik ini dipastikan akan berimbas pada sektor energi nasional dan fluktuasi harga di dalam negeri.
"Nah dengan adanya situasi ini, berarti itu juga akan berpengaruh terhadap kita. Terutama masalah di sektor energi," ungkapnya.
Ia pun mengingatkan pentingnya kesiapan sektor riil, terutama konstruksi dan pangan, dalam menghadapi potensi tekanan ekonomi global.
"Persoalannya adalah, apakah di dalam sektor konstruksi dan pangan kita sudah siap. Oleh karena itu, kita juga bisa berkontribusi pada pemerintah agar tetap memperkuat sektor konstruksi dengan pangan," imbuhnya.
Ridho mendorong pemerintah untuk segera menggalakkan program penghematan energi serta memperkuat ketahanan pangan sebagai langkah antisipatif.
"Yang lebih kepada efisiensi dan mementingkan kepentingan nasional itu menjadi lebih baik," tutup Ridho.
Sementara itu, Dewan Pembina AWKI, Laksamana Muda TNI (Purn) Suratno, memberikan perspektif berbeda terkait dinamika konflik modern. Menurutnya, perang saat ini tidak selalu identik dengan kontak senjata langsung, melainkan kerap diawali dengan perang proksi dan penggalangan opini.
"Jadi di sana yang terjadi itu perang tidak langsung. Pasti akan dilemahkan dulu. Artinya, intelijen itu akan menggalang dulu," ujarnya.
Dalam konteks inilah, Suratno menilai pembinaan terhadap komunitas seperti pengemudi ojek online menjadi sangat penting. Hal ini sebagai upaya preventif agar masyarakat tidak mudah terprovokasi atau dijadikan alat dalam konflik kepentingan tertentu.
"Nah kita bina ojek online oleh Ketua Umum AWKI ini supaya jangan mau nanti jadi proksi. Diprovokasi mereka hanya karena uang tidak seberapa atau ada makan siang, langsung nurut," tegasnya.
Ketua Umum AWKI, Robertus Rani Lopiga Taher, menjelaskan bahwa acara buka puasa bersama ini merupakan bentuk kepedulian sosial sekaligus upaya memperkuat ideologi kebangsaan di tengah dinamika global yang tidak menentu.
"Acara ini sebenarnya bentuk dari bagaimana AWKI peduli kepada sesama, berbagi. Dan hari ini acara diselenggarakan berkat partisipasi semua member AWKI," ujarnya.
Baca Juga: Perang AS-Iran Tekan Pasar Modal, IHSG Rawan Koreksi
Robertus menambahkan bahwa kegiatan yang secara khusus dinamakan Bukber Kebangsaan ini merupakan agenda rutin kedua yang digelar pihaknya selama bulan Ramadan.
"Jadi ini adalah acara kedua sebenarnya yang telah kami lakukan. Tapi dalam masa Ramadan ini, kami namakan adalah Bukber Kebangsaan," katanya.
Ia kembali menegaskan bahwa penguatan ideologi Pancasila kepada seluruh elemen masyarakat, termasuk para pengemudi ojol, adalah keniscayaan di tengah ancaman disinformasi dan polarisasi.
"Ya, jadi tadi kita sampaikan bahwa Pancasila itu harus selalu ada. Bagaimana Pancasila itu tetap melekat khususnya kepada kita semua," pungkas Robertus.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Amry Nur Hidayat
Tag Terkait: