5 Nama Muncul, Trump Ungkap Tiga Kandidat Kuat Pimpinan Iran Usai Khamenei Gugur
Kredit Foto: The Guradian
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengaku telah mempertimbangkan tiga kandidat yang sangat baik untuk memimpin Iran setelah wafatnya Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.
Trump menyampaikan hal ini dalam wawancara dengan The New York Times dari kediamannya di Florida.
Wafatnya Khamenei sendiri terjadi setelah serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel menargetkan kediaman sang pemimpin tertinggi pada 28 Februari. Televisi pemerintah Iran mengonfirmasi bahwa negara itu memasuki masa berkabung nasional 40 hari usai kejadian tersebut.
Laporan internasional menyebutkan bahwa serangan terhadap Khamenei juga menewaskan sejumlah pejabat tinggi dekat rezimnya, menciptakan kekosongan besar dalam struktur kekuasaan Iran.
Kekosongan ini memicu perdebatan tentang siapa yang akan mengisi posisi tertinggi itu dalam sistem politik yang ketat dan berakar pada hukum Islam Syiah.
Trump mengatakan ia melihat beberapa figur yang dapat mengambil alih kepemimpinan Iran di masa depan, tetapi menolak menyebutkan nama konkretnya saat diwawancarai.
“Mereka ingin berbicara, dan saya telah setuju untuk berbicara, jadi saya akan berbicara dengan mereka,” ujarnya, tanpa merinci tanggal atau sosok yang dimaksud.
Pernyataan Trump ini muncul di tengah pergolakan geopolitik yang belum pernah terjadi sebelumnya antara Washington, Tel Aviv, dan Teheran. Ketidakpastian kepemimpinan Iran dipandang sebagai faktor utama dalam dinamika hubungan antarnegara selama krisis ini.
Sementara itu, di dalam negeri Iran, sejumlah nama sudah ramai disebut sebagai kandidat kuat pengganti Khamenei oleh analis dan media internasional.
Baca Juga: Serangan AS ke Iran Ganggu Pasokan Minyak, Airlangga: Harga BBM Otomatis Naik
Daftar tersebut mencerminkan keseimbangan kekuasaan antara ulama, elite politik, dan faksi konservatif yang selama ini mengendalikan republik tersebut.
Salah satu sosok yang digadang-gadang adalah Mojtaba Khamenei, putra kedua Ali Khamenei, yang dikenal memiliki pengaruh besar di antara pejabat pemerintahan dan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
Meski memiliki kedekatan keluarga, jalur suksesi langsung dari ayah ke anak tetap kontroversial mengingat sejarah revolusi yang menentang monarki.
Nama lain yang sering disebut adalah Alireza Arafi, seorang ulama senior dan anggota Guardian Council serta Assembly of Experts, yang memegang peran penting dalam struktur keagamaan Iran. Arafi juga dikenal sebagai imam Jumat di kota suci Qom dan memimpin pendidikan ulama di seluruh negeri.
Di antara kandidat kuat lainnya adalah Mohammad Mehdi Mirbagheri, seorang ulama garis keras dengan pandangan sangat kritis terhadap Barat dan pemimpin Akademi Ilmu Ilmu Islam di Qom. Keberpihakan ideologisnya bisa menarik dukungan faksi konservatif dalam proses suksesi.
Tokoh senior lain yang dipandang sebagai calon kuat adalah Gholam-Hossein Mohseni-Ejei, Kepala Lembaga Peradilan Iran yang ditunjuk Khamenei pada 2021 dan sebelumnya pernah memegang posisi menteri intelijen dan jaksa agung. Pengalaman administratifnya membuatnya jadi figur konservatif yang berpengaruh.
Yang menarik, Hassan Khomeini, cucu pendiri Republik Islam Ayatollah Ruhollah Khomeini, juga termasuk dalam daftar nama yang sering muncul. Ia dikenal memiliki pandangan lebih moderat dan reformis meskipun belum pernah memegang jabatan publik tinggi.
Pemilihan pemimpin baru di Iran secara konstitusional berada di tangan Assembly of Experts, sebuah badan ulama beranggotakan 88 tokoh yang dipilih rakyat.
Dewan ini berkewajiban memilih figur yang memenuhi kriteria keagamaan, administratif, dan kapasitas kepemimpinan sesuai hukum Islam Syiah.
Sistem politik Iran memastikan bahwa proses suksesi tidak hanya soal keputusan politik, tetapi juga perimbangan antara elite keagamaan dan kekuatan militer seperti IRGC. Perbedaan pandangan di antara kandidat mencerminkan beragam faksi yang berebut pengaruh di tengah kekosongan kekuasaan.
Respons AS terhadap pergantian ini dipandang sebagai langkah strategis di tengah konflik yang lebih luas. Trump tampaknya bersiap membuka saluran dialog langsung dengan pemimpin baru Iran untuk meredakan ketegangan dan menjaga stabilitas kawasan.
Pengakuan Trump bahwa ada tiga pilihan yang baik untuk memimpin Iran menunjukkan bahwa pemerintahan AS sudah mulai membaca kemungkinan arah politik di Teheran.
Baca Juga: Rusia: Negosiasi Pengembangan Nuklir Iran Hanyalah Kedok Trump
Meskipun detilnya dirahasiakan, pernyataan ini memberi sinyal bahwa Washington mengantisipasi transisi kekuasaan yang cepat.
Perubahan kepemimpinan di Iran bukan hanya soal figur tunggal, tetapi juga bagaimana negara ini menavigasi konflik militer, tekanan internasional, dan dinamika internal. Ketidakpastian ini tetap menjadi faktor utama dalam hubungan global yang sedang diuji.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Wahyu Pratama
Editor: Amry Nur Hidayat
Tag Terkait: