Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Danantara Ungkap Satu Kendala Borong 50 Boeing, Bukan soal Dana

        Danantara Ungkap Satu Kendala Borong 50 Boeing, Bukan soal Dana Kredit Foto: Istimewa
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Managing Director Stakeholders Management Danantara Indonesia, Rohan Hafas, mengungkapkan satu kendala dalam pembelian 50 unit pesawat dari Boeing untuk PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA). 

        Kendala dalam pemesanan pesawat tersebut adalah waktu tunggu yang panjang untuk pemesanan pesawat per unit. Karena bisa memakan waktu tunggu hingga 7 tahun.

        "Semua kendalanya cuma satu, delivery time. Bukan masalah memilih jenis saja. Delivery time. Mau milih jenis pesawat yang mana kalau delivery time-nya juga nggak segera, kita mesti putar otak dulu kan," ungkapnya., dikutip Senin (2/3).

        Dirinya menegaskan pihaknya berkomitmen untuk melakukan pembelian tersebut, namun dari pihak Boeing belum merespons berapa produksi yang bisa dilakukan.

        "Kita siap membeli 50. Cuma Boeing belum menjawab atau akan menjawab dia mampunya 10 kah, 20 kah, itu belum," kata Rohan.

        Sementara untuk sumber pendanaan, terdapat berbagai skema pembiayaan yang dipertimbangkan Dannatara. Salah satunya adalah skema supplier’s credit atau cicilan langsung kepada Boeing.

        "Sources of fund itu kan bisa macam-macam ya, tapi kan suppliers credit juga ada kan, kita juga bisa nyicil ke Boeing. Itu semua negosiasi yang nanti harus dilakukan," kata Rohan.

        Danantara juga tidak menutup kemungkinan untuk memberikan suntikan modal kembali kepada Garuda Indonesia dalam mendukung penambahan armada.

        Pada pertengahan 2025, PT Danantara Asset Management (DAM) telah mengalokasikan suntikan modal sebesar Rp23,67 triliun kepada maskapai pelat merah tersebut.

        "Capital injection harus ada, nanti next. Mau beli pesawat sebetulnya, tapi pesawat itu di seluruh dunia antre airlines mana pun, bisanya tujuh tahun, makanya nomor satu tadi merger dulu lebih bagus, digabung supaya jumlah armadanya itu efisien yang satu rute," ujar Rohan.

        Untuk diketahui, rencana pembelian 50 pesawat dari Boeing ini merupakan bagian dari dokumen bertajuk Toward a New Golden Age for the U.S.-Indonesia Alliance yang ditandatangani Indonesia dan Amerika Serikat pada pekan lalu.

        Baca Juga: Kemenhaj Imbau Penundaan Umrah di Tengah Eskalasi Konflik AS–Israel vs Iran

        Dokumen ini memuat ketentuan perdagangan timbal bali. Salah satu kesepakatannya adalah  Indonesia diwajibkan melakukan pengadaan pesawat komersial serta barang dan jasa terkait penerbangan senilai 13,5 miliar dolar AS.

        "Dari Agreement Reciprocal Tarif ini, ada beberapa kegiatan yang memang menyangkut di Kementerian Investasi maupun di Danantara, di antaranya rencana pembelian 50 pesawat dari Boeing," ujar Menteri Investasi/Kepala BKPM Rosan Perkasa Roeslani dalam konferensi pers daring dari Washington DC, AS pada Jumat, 20 Februari 2026.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
        Editor: Ulya Hajar Dzakiah Yahya

        Bagikan Artikel: