Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Pasar Berfluktuasi, BNI (BBNI) Bakal Buyback Saham Rp905,48 Miliar

        Pasar Berfluktuasi, BNI (BBNI) Bakal Buyback Saham Rp905,48 Miliar Kredit Foto: Istimewa
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk berencana melakukan pembelian kembali (buyback) saham senilai Rp905,48 miliar. Nilai transaksi ini diperkirakan tidak melebihi 10% dari jumlah modal yang ditempatkan, menggunakan arus kas bebas berupa saldo laba yang belum ditentukan penggunaannya.

        "Perkiraan nilai transaksi buyback termasuk biaya transaksi buyback (meliputi biaya transaksi, biaya penyimpanan, dan commitment fee) sekitar 0,32% dari nilai eksekusi buyback, dengan asumsi buyback dilaksanakan secara keseluruhan," jelas manajemen. 

        Buyback akan dilakukan melalui BEI, baik bertahap maupun sekaligus, dan diselesaikan paling lama 12 bulan sejak tanggal RUPST yang menyetujui rencana ini. Periode buyback diperkirakan berlangsung dari 9 Maret 2026 hingga 8 Maret 2027.

        Baca Juga: BNI Siapkan Rp23,97 Triliun Jelang Lebaran 2026

        Saham perbankan Indonesia menghadapi tekanan sepanjang 2025 akibat ketidakpastian global, mulai dari risiko geopolitik hingga ancaman perang tarif, sementara sektor perbankan domestik harus menghadapi tantangan likuiditas dan perlambatan permintaan kredit. Hal ini membuat saham perbankan Indonesia lebih tertekan dibandingkan dengan bank-bank regional.

        "Per 31 Desember 2025, harga saham BNI hanya naik 0,5% YoY. Meskipun lebih baik dari local peers, namun saham BNI masih tertinggal jika dibandingkan dengan bank-bank regional peers," kata manajemen. 

        Walau pasar saham domestik mulai rebound di akhir tahun 2025 seiring kembalinya optimisme investor asing, arus dana asing masuk belum sepenuhnya pulih. Investor masih berhati-hati mengantisipasi ketidakpastian global yang meningkat di awal 2026, termasuk tensi geopolitik dan ancaman tarif AS.

        Ketidakstabilan geopolitik juga mendorong pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS, bahkan menembus Rp16.985 per Dolar AS, lebih rendah dari level krisis moneter 1998. 

        Di tengah kondisi ini, forecast kinerja BNI tetap positif, didukung fundamental yang kuat, permodalan yang kokoh, kualitas aset terjaga, pertumbuhan kredit seimbang di semua segmen, serta peningkatan dana murah berkat transformasi digital dan jaringan yang luas. Namun, eskalasi konflik global dan perang tarif masih berpotensi menekan IHSG dan saham perbankan nasional.

        Baca Juga: Outlook Moody’s Negatif, BNI Tegaskan Status Tetap Investment Grade

        "Buyback dimaksudkan untuk membantu mengurangi tekanan jual di pasar saat indeks harga saham sedang berfluktuasi, sekaligus memberi indikasi kepada investor bahwa perusahaan memandang harga saham saat ini tidak mencerminkan fundamental perusahaan," tambah manajemen. 

        Perseroan optimistis bahwa pelaksanaan buyback tidak akan memberikan dampak negatif material terhadap kegiatan usaha, karena BNI memiliki modal dan arus kas yang cukup untuk membiayai transaksi sekaligus menjalankan operasional perusahaan.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Belinda Safitri
        Editor: Belinda Safitri

        Bagikan Artikel: