Ilustrasi: Wafiyyah Amalyris K
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mendekati level Rp17.000. Pada perdagangan Rabu (4/3/2026), rupiah melemah 50 poin atau 0,3 persen ke level Rp16.922 per dolar AS. Sementara itu, indeks dolar AS terpantau menguat 0,13 persen ke posisi 99,18.
Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengungkapkan bahwa melemahnya nilai tukar rupiah didominasi oleh faktor eksternal.
Ia menyebut faktor utama yang menekan rupiah adalah ketegangan geopolitik di Timur Tengah pascaserangan Amerika Serikat ke Iran yang memicu sentimen risk off di pasar keuangan global.
“Yang membuat harga rupiah melemah ini geopolitik, tensi geopolitik di Timur Tengah, pasca terjadinya perang dan penutupan Selat Hormuz. Kondisi ini membuat rupiah terus mengalami pelemahan yang cukup signifikan,” kata Ibrahim saat dihubungi Warta Ekonomi di Jakarta, Rabu (4/3/2026).
Selain faktor geopolitik, kebijakan bank sentral global juga menjadi perhatian pelaku pasar. Ibrahim menilai eskalasi konflik di Timur Tengah berpotensi mendorong lonjakan harga minyak dunia yang pada akhirnya berdampak terhadap inflasi global. Dalam kondisi tersebut, bank sentral, khususnya The Fed, berpeluang mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
“Kemudian dari sisi kebijakan bank sentral, situasi Timur Tengah akan berdampak pada kenaikan harga minyak dan inflasi. Ada kemungkinan besar The Fed mempertahankan suku bunga tinggi,” jelasnya.
Ia menambahkan faktor lain yang turut membebani rupiah adalah perang dagang, menyusul rencana Presiden AS Donald Trump untuk menerapkan tarif impor sebesar 15 persen.
Baca Juga: Perang Meluas di Timur Tengah, Rupiah Melemah ke Rp16.872
Baca Juga: Rupiah Ambles ke Rp16.868, Terseret Perang AS-Iran
Baca Juga: Perang AS–Iran, Rupiah Tertekan Lonjakan Harga Minyak
“Dari tiga faktor inilah yang membuat nilai tukar rupiah mengalami pelemahan,” tuturnya.
Dari sisi domestik, Ibrahim menilai fundamental ekonomi Indonesia masih berada dalam kondisi yang baik. Kinerja neraca perdagangan dinilai solid, tekanan inflasi relatif terkendali, serta data sektor manufaktur menunjukkan tren yang cukup positif.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Cita Auliana
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: