- Home
- /
- Kabar Finansial
- /
- Bursa
Menilik Prospek Pasar Saham RI di Tengah Penurunan Outlook dari Fitch
Kredit Foto: Antara/Akbar Nugroho Gumay
Pasar saham Indonesia menghadapi tekanan dalam jangka pendek setelah lembaga pemeringkat global Fitch Ratingsmenurunkan outlook peringkat kredit Indonesia menjadi negatif dari sebelumnya stabil.
Perubahan outlook tersebut dinilai sejumlah analis dapat memicu sentimen negatif di pasar, terutama karena investor global cenderung sangat sensitif terhadap perubahan persepsi risiko suatu negara.
Pengamat pasar modal Reydi Octa mengatakan penurunan rating outlook oleh Fitch Ratings memberikan tekanan psikologis jangka pendek ke pasar.
“Sentimen ini bisa memicu sikap risk off, sehingga arus dana asing cenderung keluar sementara dari Indonesia,” jelasnya kepada wartawan, Kamis (5/3/2026).
Meski demikian, secara fundamental dampaknya terhadap pasar saham tidak selalu bersifat permanen. Jika kondisi makro domestik seperti pertumbuhan ekonomi, stabilitas perbankan, dan fiskal tetap terjaga, pasar dinilai mampu menyesuaikan diri setelah fase volatilitas awal.
“Dalam konteks saat ini, tekanan memang terasa lebih berat karena terjadi bersamaan dengan eskalasi konflik di Timur Tengah,” ujarnya.
Reydi memperkirakan dalam jangka pendek Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih berpotensi bergerak melemah, terutama akibat kombinasi sentimen global dan meningkatnya persepsi risiko terhadap negara.
Namun dalam jangka menengah, pasar saham Indonesia dinilai masih memiliki daya tarik jika reformasi pasar modal terus berjalan dan fundamental ekonomi tetap solid.
Pendapat serupa disampaikan Founder & CEO Wakara Riska Afriani. Ia menilai perubahan outlook dari Fitch Ratingsmemang akan memberi tekanan terhadap sentimen pasar dalam jangka pendek.
Menurut dia, investor global biasanya cukup sensitif terhadap penilaian lembaga pemeringkat, terlebih di tengah kondisi global yang dipenuhi ketidakpastian.
“Mulai dari konflik geopolitik di Timur Tengah sampai arah kebijakan suku bunga global yang masih ketat,” ujarnya.
Kombinasi faktor tersebut, kata Riska, berpotensi membuat pasar saham Indonesia bergerak lebih volatil dalam waktu dekat.
Namun secara fundamental, pasar Indonesia dinilai masih cukup kuat karena peringkat kreditnya tetap berada pada level investment grade. Selain itu, struktur ekonomi domestik juga relatif ditopang oleh konsumsi dalam negeri serta basis investor lokal yang semakin besar.
“Jadi kemungkinan dalam beberapa waktu ke depan pasar akan lebih banyak bergerak konsolidatif, tetapi dalam jangka menengah prospeknya masih cukup positif selama stabilitas makroekonomi dan kepercayaan investor tetap terjaga,” jelasnya.
Sebelumnya, lembaga pemeringkat global Fitch Ratings menurunkan prospek (outlook) peringkat kredit Indonesia menjadi negatif dari sebelumnya stabil, sekaligus mempertahankan peringkat utang jangka panjang mata uang asing (Long-Term Foreign Currency Issuer Default Rating/IDR) di level BBB.
Baca Juga: Fitch Pangkas Outlook Kredit RI Jadi Negatif, Airlangga Genjot Penerimaan Pajak
Baca Juga: Fitch Revisi Outlook RI Jadi Negatif, Ini Respons BI
Baca Juga: Rupiah Melemah ke Rp16.892 Usai Fitch Revisi Outlook Utang RI Jadi Negatif
Keputusan tersebut diumumkan pada 4 Maret 2026 dengan alasan meningkatnya ketidakpastian kebijakan ekonomi serta kekhawatiran terhadap konsistensi kerangka kebijakan pemerintah.
Fitch Ratings menyatakan revisi prospek tersebut mencerminkan meningkatnya ketidakpastian kebijakan dan kekhawatiran atas melemahnya konsistensi serta kredibilitas bauran kebijakan ekonomi Indonesia di tengah meningkatnya sentralisasi pengambilan keputusan.
Kondisi ini dinilai berpotensi melemahkan prospek fiskal jangka menengah, menekan sentimen investor, serta memberi tekanan terhadap ketahanan eksternal Indonesia.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: