Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

IHSG Terperosok Lebih dari 5%, Saham Konglomerat Jadi Biang Tekanan

IHSG Terperosok Lebih dari 5%, Saham Konglomerat Jadi Biang Tekanan Kredit Foto: Uswah Hasanah
Warta Ekonomi, Jakarta -

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat ambruk lebih dari 5% pada perdagangan Rabu (3/6/2026) sebelum memangkas sebagian pelemahan menjelang akhir sesi pertama. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG sempat menyentuh level terendah 5.876,32 atau turun lebih dari 5% dari posisi penutupan sebelumnya di 6.195,43.

Pada penutupan sesi I, IHSG berada di level 5.889,48 atau melemah 305,95 poin setara 4,94%. Pelemahan tersebut terjadi di tengah tekanan jual yang merata di hampir seluruh saham berkapitalisasi besar dan meningkatnya aksi jual investor asing.

Data perdagangan menunjukkan kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia turun menjadi Rp10.334 triliun. Nilai transaksi mencapai Rp14,86 triliun dengan volume perdagangan 23,51 miliar saham dan frekuensi transaksi 1,76 juta kali.

Tekanan jual terjadi secara luas di pasar. Sebanyak 752 saham ditutup melemah, sementara hanya 38 saham menguat dan 169 saham bergerak stagnan hingga akhir sesi pertama.

Saham-saham konglomerasi yang sehari sebelumnya menopang pergerakan indeks berbalik menjadi pemberat utama. PT Petrosea Tbk (PTRO) menjadi salah satu saham dengan koreksi terdalam setelah turun 15%. Pelemahan juga terjadi pada PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) yang turun 14,9%, PT Barito Pacific Tbk (BRPT) yang melemah 13,5%, serta PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) yang terkoreksi 13,4%.

Tekanan juga terlihat pada saham-saham berkapitalisasi besar yang mendominasi nilai pasar Bursa. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) turun 3%, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) melemah 3,62%, dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI terkoreksi 2,64%).

Dari sisi sektoral, seluruh indeks sektor berada di zona merah. Penurunan terdalam tercatat pada sektor bahan baku (IDX Basic) dan energi (IDX Energy), sejalan dengan koreksi tajam pada saham-saham pertambangan dan petrokimia.

Tekanan terhadap IHSG juga terjadi di tengah aksi jual investor asing. Berdasarkan data perdagangan sesi I, investor asing membukukan penjualan bersih (net foreign sell) sebesar Rp525,37 miliar.

Saham yang mencatatkan penjualan bersih asing terbesar antara lain BBCA sebesar Rp265,32 miliar, TPIA Rp257,53 miliar, BBRI Rp198,73 miliar, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) Rp104,14 miliar, dan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) Rp90,94 miliar.

Selain itu, aksi jual asing juga tercatat pada saham PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), PT Petrosea Tbk (PTRO), PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI), PT Astra International Tbk (ASII), dan PT United Tractors Tbk (UNTR).

Baca Juga: Warganet Panik! IHSG Rontok ke 5.977, Rupiah Jebol 17.927 Usai Dadan Dicopot

Baca Juga: Sempat Dibuka Hijau, IHSG Langsung Balik Arah ke Zona Merah

Meski demikian, sejumlah saham masih mencatatkan pembelian bersih asing. Saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) menjadi tujuan pembelian terbesar dengan nilai Rp165,59 miliar, diikuti PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) Rp87,04 miliar, PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) Rp86,96 miliar, PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) Rp43,21 miliar, dan PT Dewa United Energi Tbk (DEWA) Rp42,71 miliar.

Di kawasan regional, pergerakan bursa Asia berlangsung bervariasi. Bursa Hong Kong dan Mumbai berada di zona negatif, sementara indeks saham Tokyo dan Shanghai masih mencatat penguatan hingga pertengahan perdagangan.

Pelemahan IHSG pada sesi pertama membuat indeks kembali bergerak di bawah level psikologis 6.000 dan mencatatkan posisi terendah intraday di level 5.876,32.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Annisa Nurfitri