Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        PBNU Desak Gencatan Senjata: Gus Yahya Tegaskan Tidak Ada yang Selamat jika Perang Terus

        PBNU Desak Gencatan Senjata: Gus Yahya Tegaskan Tidak Ada yang Selamat jika Perang Terus Kredit Foto: Sufri Yuliardi
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Pesan Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf tentang konflik Timur Tengah tidak butuh panjang lebar untuk dipahami. Disampaikan tepat di momen berbuka puasa bersama Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (5/3/2026), pesannya tunggal dan tegas: hentikan perang, tidak ada jalan lain.

        "Kita tidak punya pilihan selain berjuang sekuat tenaga supaya damai, berhenti perang, berhenti, berhenti, berhenti perang, berhenti, damai sekarang," kata Gus Yahya dikutip dari ANTARA.

        Gus Yahya tidak menyisakan ruang untuk tafsir lain dalam pernyataannya. Setiap bentuk kekerasan yang dibiarkan berlanjut, katanya, hanya akan memperbesar kehancuran dan mengancam keselamatan semua pihak, bukan hanya mereka yang ada di medan konflik.

        "Tidak ada alternatif lain. Karena kalau nggak begitu tidak ada yang selamat," ujarnya.

        Ketegasan itu datang dari posisi NU sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia, suara yang bobotnya tidak bisa diabaikan dalam percakapan tentang perdamaian global, terutama di momen Ramadan ketika seruan moral keagamaan terdengar lebih kuat dari biasanya.

        Di balik agenda iftar yang terkesan seremonial, Gus Yahya mengungkap ada substansi yang lebih penting di dalamnya.

        Ia memperkirakan Presiden Prabowo akan menyampaikan sejumlah langkah strategis pemerintah, baik yang berkaitan dengan dinamika dalam negeri maupun perkembangan internasional yang dinilai semakin mengkhawatirkan.

        Baca Juga: Redam Konflik AS-Israel dan Iran, PBNU Minta Prabowo Manfaatkan Posisi di Dewan Perdamaian Bentukan Trump

        "Mungkin, juga beliau akan memberikan, berbagi pandangan dengan para tokoh, para ulama mengenai perkembangan mutakhir dalam dinamika internasional yang memang sangat mengkhawatirkan," katanya.

        Bagi Gus Yahya, pertemuan iftar ini bukan sekadar agenda sosial di bulan Ramadan. Ia melihatnya sebagai kanal komunikasi langsung antara pemerintah dan para pemimpin masyarakat di tengah situasi global yang bergerak cepat dan tidak terprediksi, sebuah forum yang justru semakin relevan ketika keputusan-keputusan besar harus diambil dalam waktu singkat.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Wahyu Pratama
        Editor: Amry Nur Hidayat

        Bagikan Artikel: