Drone Shahed Iran Jadi Sorotan, Senjata Murah Lawan Teknologi Mahal AS
Kredit Foto: AFP/Atta Kenare
Drone Shahed Iran sedang menjadi perhatian, karena senjata berbiaya murah ini dinilai mampu menguras aset pertahanan Amerika Serikat (AS) dalam konflik terbaru di Timur Tengah.
Ketimpangan biaya antara drone murah dan sistem pencegat mahal, membuat serangan tersebut dinilai efektif menekan pertahanan udara lawan.
Drone Shahed digunakan secara luas dalam konflik Iran melawan AS dan Israel yang meletus pada 28 Februari.
Iran dilaporkan mengerahkan ratusan hingga ribuan drone untuk menyerang sejumlah target yang berkaitan dengan kepentingan AS dan Israel, mulai dari fasilitas radar, bandara, hingga bangunan-bangunan strategis.
Melansir dari NBC News, Ketua Kepala Staf Gabungan Amerika Serikat Dan Caine menyebut kendaraan udara nirawak Iran sebagai ancaman nyata bagi Washington.
Caine mengatakan drone-drone yang dikerahkan oleh Iran berhasil menyerang target efektif pertahanan udara AS, dan berhasil melawan mereka.
Para pengamat menilai kondisi tersebut juga menunjukkan masalah baru, yakni penggunaan sistem pertahanan udara mahal untuk menjatuhkan drone dengan biaya yang jauh lebih rendah.
Satu unit drone Shahed diperkirakan berharga sekitar US$20.000 hingga US$50.000.
Angka tersebut jauh lebih kecil dibandingkan sistem rudal dan pesawat AS yang bernilai 10 kali lipat dari Drone Shahed.
Perbedaan biaya ini membuat setiap upaya pencegatan menjadi pengeluaran besar bagi pihak AS.
Para analis menilai Iran sengaja memanfaatkan pendekatan perang asimetris melalui penggunaan drone tersebut.
Dengan keterbatasan akses terhadap teknologi militer canggih akibat sanksi internasional, Iran mengembangkan sistem senjata yang lebih sederhana namun dapat diproduksi dalam jumlah besar.
Drone Shahed juga relatif mudah diproduksi karena menggunakan komponen yang dapat diperoleh secara luas.
Selain itu, peluncurannya dapat dilakukan dari kendaraan seperti truk, sehingga tidak membutuhkan fasilitas produksi atau peluncuran besar seperti sistem rudal konvensional.
Secara teknis, drone Shahed-136 memiliki panjang sekitar 3,5 meter dengan bentang sayap sekitar 2,5 meter dan berat sekitar 200 kilogram.
Drone ini mampu terbang hingga sekitar 2.000 kilometer dengan kecepatan maksimum sekitar 115 mph, serta membawa bahan peledak sekitar 50 kilogram.
Meski tidak membawa hulu ledak besar, drone tersebut tetap menimbulkan ancaman, karena dapat terbang rendah, dan mengikuti jalur penerbangan yang kompleks untuk menghindari deteksi radar.
Dalam beberapa kasus, drone juga dapat dikendalikan dari jarak jauh, sehingga operator dapat mengubah arah serangan menjelang target.
Sejumlah analis menilai penggunaan drone murah dalam jumlah besar berpotensi menguras persediaan rudal pencegat milik AS.
Baca Juga: Arab Saudi Gempar, Serangan Drone Hantam Kedutaan Besar Amerika Serikat (AS)
Jika konflik berlangsung dalam waktu lama, strategi tersebut dapat memberi tekanan tambahan terhadap sistem pertahanan udara AS.
"Jika ini berlangsung lama, mereka (AS) mungkin harus harus menemukan cara yang lebih berkelanjutan," ujar Kelly Grienco, peneliti senior think tank AS Stimson Center. (*)
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Yulisha Kirani Rizkya Pangestuti
Editor: Yaspen Martinus
Tag Terkait: