Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Trump Sebut Pertanyaan Soal Rusia-Iran Bodoh, Laporan Justru Ungkap Keterlibatan Moskow dan Potensi Beijing Bantu Teheran

        Trump Sebut Pertanyaan Soal Rusia-Iran Bodoh, Laporan Justru Ungkap Keterlibatan Moskow dan Potensi Beijing Bantu Teheran Kredit Foto: Istimewa
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Saat wartawan mencoba menggali sikap Presiden Donald Trump soal laporan keterlibatan Rusia dalam konflik Iran, jawaban yang keluar bukan penjelasan melainkan penolakan. Trump menyebut pertanyaan itu "bodoh," dan memilih menutup topik yang justru sedang menjadi perhatian serius komunitas intelijen Amerika Serikat.

        "Itu masalah mudah dibandingkan apa yang sedang kita lakukan di sini. Boleh saya jujur? Saya sangat menghormati Anda, Anda selalu baik kepada saya. Betapa bodohnya pertanyaan seperti itu ditanyakan saat ini. Kita sedang membicarakan hal lain," ujar Trump dikutip dari Kantor Berita TASS.

        Pertanyaan yang Trump abaikan itu ternyata berpijak pada laporan intelijen yang dikonfirmasi oleh beberapa media besar secara bersamaan. Mengutip tiga pejabat AS yang berbicara dengan syarat anonim, Washington Post melaporkan bahwa Rusia telah menyuplai Iran dengan informasi penargetan sejak pecahnya perang pada 28 Februari 2026 mencakup lokasi kapal perang dan pesawat tempur AS yang beroperasi di kawasan Timur Tengah.

        CNN menambahkan dimensi yang lebih rinci: sebagian besar intelijen yang dibagikan Rusia berasal dari jaringan satelit overhead Moskow yang canggih aset yang jauh melampaui kemampuan pelacakan Iran sendiri yang disebut telah melemah sejak AS dan Israel mulai melancarkan serangan besar.

        Satu sumber yang dikutip CNN menyimpulkan situasi ini dengan singkat: "Ini menunjukkan Rusia masih sangat menyukai Iran."

        Perkembangan lain yang tidak kalah mengkhawatirkan datang dari arah berbeda. CNN juga melaporkan bahwa AS memiliki intelijen yang mengindikasikan China sedang mempertimbangkan untuk memberikan bantuan kepada Iran dalam bentuk dukungan finansial, suku cadang, dan komponen missile.

        Namun Beijing disebut lebih berhati-hati karena China sangat bergantung pada minyak Iran dan dilaporkan justru menekan Teheran agar membuka kembali jalur aman bagi kapal-kapal melalui Selat Hormuz.

        "China lebih berhati-hati dalam dukungannya. Mereka ingin perang berakhir karena membahayakan pasokan energi mereka," kata satu sumber yang dikutip CNN.

        Keterlibatan Rusia ini bukan datang dari ruang hampa. Pada 2025, Moskow dan Teheran menandatangani perjanjian kemitraan strategis yang mencakup klausul menghadapi ancaman bersama.

        Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi pun tidak menutup-nutupi ketika dikonfirmasi NBC News.

        "Kami telah bekerja sama di masa lalu, dan kerja sama ini berlanjut, dan saya berharap akan terus berlanjut di masa depan." Ujarnya.

        Moskow sendiri hingga kini belum memberikan respons resmi atas tuduhan berbagi intelijen tersebut.

        Laporan intelijen itu bukan abstrak ia hadir di tengah perang yang sudah menelan korban nyata. Enam tentara AS tewas ketika drone Iran menghantam fasilitas darurat di Kuwait, tempat para prajurit berada tanpa pelindung atap yang memadai.

        Menteri Pertahanan Pete Hegseth menyatakan pasukan AS dan Israel akan segera meraih kendali penuh atas langit Iran, dan serangan udara besar kedua sedang dalam persiapan.

        Baca Juga: Angkatan Lautnya Musnah, Trump Klaim Iran Ingin Capai Kesepakatan dengan Amerika Serikat

        Penolakan Trump untuk menanggapi pertanyaan soal Rusia justru membuat pertanyaan itu semakin berat. Jika keterlibatan Moskow terbukti dan laporan dari Washington Post, CNN, serta NBC News menunjukkan arah yang sama maka konflik Timur Tengah ini bukan lagi perang antara AS-Israel dan Iran semata.

        Ia telah berubah menjadi arena di mana kekuatan-kekuatan besar dunia saling berhadapan secara tidak langsung, sementara DPR AS menyusul Senat sehari sebelumnya sudah memberikan lampu hijau kepada Trump untuk melanjutkan operasi militer dengan menolak resolusi war powers yang dirancang untuk menghentikannya.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Wahyu Pratama
        Editor: Amry Nur Hidayat

        Bagikan Artikel: