Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Meski DIguncang Perang AS - Iran, OJK Klaim Pasar Modal RI Masih Dilirik Investor Asing

        Meski DIguncang Perang AS - Iran, OJK Klaim Pasar Modal RI Masih Dilirik Investor Asing Kredit Foto: Sufri Yuliardi
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Meski sempat dihantam dampak geopolitik global khususnya perang AS - Iran, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) meyakini kondisi perekonomian dan pasar modal Indonesia tetap solid.

        Mengacu data RTI, IHSG sempat jeblok 248,31 poin atau 3,27% ke level 7.337,36 pada Senin (9/3/2026). Namun, hari ini (10/3/2026) IHSG kembali rebound dan ditutup meroket 103,54 poin atau naik 1,41% ke level 7.440,91.

        Pejabat Sementara Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi mengatakan, hingga saat ini pasar modal RI masih diminati para investor asing. Hal ini terbukti dari adanya aliran dana asing yang masuk ke pasar modal.

        "Per 6 Maret 2026, ada nett buy Rp2,23 triliun investor asing di pasar modal kita. Bahkan Rata-rata Nilai Transaksi Harian (RNTH) pasar modal kita naik 65,31% yakni sebesar Rp29,87 triliun," ujarnya saat Diskusi dengan Redaktur Media Massa di Jakarta, Selasa (10/3/2026).

        Data tersebut, lanjut Hasan, menunjukkan bahwa tidak ada kepanikan berlebihan dari pelaku pasar. Bahkan kata dia, banyak investor asing yang memanfaatkan penurunan harga saham ini untuk masuk untuk membelinya.

        Baca Juga: Dihadapan Investor, BEI Tegaskan Kepercayaan Jadi Fondasi Stabilitas Pasar Modal

        “Jadi sekalipun kondisi indeksnya turun tajam tapi sebetulnya beda dengan krisis yang pernah kita kenal sebelumnya seperti waktu pandemi dan sebagainya dimana kepanikan itu tercermin dari market yang hanya menjual tanpa ada lawan transaksi yang bersedia membelinya jadi hanya satu sisi.”

        "Untuk kali ini, sampai terakhir merespon perkembangan perang di Iran kita menganalisis market masih develop, angka RNTH masih normal tinggi, kemudian tidak ada tekanan satu arah. Yang terjadi bahkan memanfaatkan momentum penurunan harga saham ini untuk secara selektif masuk di saham-saham tertentu sehingga di bulan ini nett buy diangka Rp2,23 triliun walaupun secara year to date asing masih nett sell,” tambahnya.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Fajar Sulaiman
        Editor: Fajar Sulaiman

        Bagikan Artikel: