Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        OPEC Proyeksikan Permintaan Minyak 107,9 Juta Barel di 2027, Abaikan Dampak Perang di Timur Tengah

        OPEC Proyeksikan Permintaan Minyak 107,9 Juta Barel di 2027, Abaikan Dampak Perang di Timur Tengah Kredit Foto: Google Earth
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Rabu, 11 Maret menjadi hari yang penuh kontradiksi di pasar energi global. Badan Energi Internasional (IEA), lembaga yang dibentuk negara-negara konsumen minyak untuk mengkoordinasikan respons terhadap krisis energi, menggelar rapat darurat untuk membahas pelepasan cadangan minyak terbesar dalam sejarah, sementara Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) merilis laporan bulanan dengan proyeksi yang tidak berubah satu angka pun dari bulan sebelumnya.

        Melansir China Daily, OPEC mempertahankan proyeksi pertumbuhan permintaan minyak global 2026 sebesar 1,4 juta barel per hari dan 2027 sebesar 1,3 juta barel per hari.

        Organisasi yang beranggotakan 13 negara produsen minyak utama dunia itu mencatat perkembangan geopolitik saat ini perlu dipantau, tapi menyebut "masih terlalu dini untuk menentukan apakah hal itu bisa berdampak signifikan pada proyeksi pertumbuhan ekonomi global."

        Menurut laporan dari Bloomberg, konsumsi minyak dunia di 2027 diproyeksikan rata-rata mencapai 107,9 juta barel per hari. Angka itu sedikit lebih rendah dari pertumbuhan tahun ini, tapi tetap dalam tren yang stabil seolah penutupan Selat Hormuz hanyalah catatan kaki dalam laporan bulanan.

        Pertumbuhan itu sebagian besar akan datang dari negara-negara berkembang. OPEC memperkirakan negara-negara non-OECD mendorong 1,2 juta barel per hari dari total pertumbuhan di 2027, sementara negara-negara OECD hanya menyumbang 100.000 barel per hari.

        Permintaan dari kelompok non-OECD itu ditopang oleh tingginya aktivitas penerbangan, mobilitas jalan raya, industri, konstruksi, dan pertanian.

        Indonesia masuk dalam kategori ini yang berarti proyeksi pertumbuhan permintaan minyak global sebagian didorong oleh negara-negara yang justru paling rentan terhadap gangguan pasokan akibat konflik di Timur Tengah.

        Di sisi produksi, OPEC mencatat kenaikan. Produksi OPEC+, yakni OPEC ditambah mitra non-anggota seperti Rusia, di Februari rata-rata mencapai 42,72 juta barel per hari, naik 445.000 barel per hari dibanding Januari. Arab Saudi melaporkan produksi 10,882 juta barel per hari dengan pasokan ke pasar sebesar 10,111 juta barel per hari pada bulan yang sama.

        Ironi di balik angka produksi yang naik itu tidak kecil. Sebagian besar minyak dari kawasan Teluk Persia harus melewati Selat Hormuz untuk sampai ke pasar global dan jalur itu masih dalam kondisi nyaris lumpuh sejak konflik pecah.

        Berbeda dari OPEC, Badan Informasi Energi AS (EIA), lembaga pemerintah Amerika yang menerbitkan data dan analisis energi independen membangun proyeksinya di atas satu asumsi kunci.

        Melansir EIA, begitu aliran minyak melalui Selat Hormuz kembali terbuka, produksi minyak global diperkirakan melampaui konsumsi dan menghasilkan penumpukan stok rata-rata 1,9 juta barel per hari di 2026 dan 3,0 juta barel per hari di 2027.

        Baca Juga: Dua Kapal Pertamina Masih Tertahan di Selat Hormuz

        Dengan skenario itu, harga Brent diperkirakan turun ke rata-rata 70 dolar AS per barel, setara Rp1.141.000, di kuartal IV 2026, dan 64 dolar AS per barel, setara Rp1.043.200, di 2027. Angka itu sangat jauh dari harga Brent yang sempat menyentuh 119 dolar AS per barel, setara Rp1.940.700, di awal konflik.

        Dua laporan yang dirilis di hari yang sama itu mencerminkan dua cara membaca krisis yang berbeda. OPEC melihat jauh ke depan dan menyimpulkan dunia masih butuh minyak dalam jumlah besar.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Wahyu Pratama
        Editor: Amry Nur Hidayat

        Bagikan Artikel: