Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Venezuela Bergejolak, OPEC+ Pilih Tahan Produksi Minyak

Venezuela Bergejolak, OPEC+ Pilih Tahan Produksi Minyak Kredit Foto: Kementerian ESDM
Warta Ekonomi, Jakarta -

Delapan negara anggota OPEC+ menegaskan komitmen menjaga stabilitas pasar minyak global dengan menahan kenaikan produksi hingga Maret 2026, di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik setelah Amerika Serikat menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro. 

Arab Saudi, Rusia, Irak, Uni Emirat Arab (UEA), Kuwait, Kazakhstan, Aljazair, dan Oman menyepakati kebijakan tersebut dalam pertemuan virtual pada 4 Januari 2026, dengan mempertimbangkan prospek ekonomi global yang relatif stabil dan kondisi pasar minyak yang masih ditopang persediaan rendah.

Dalam pertemuan tersebut, kedelapan negara menegaskan kembali keputusan pada 2 November 2025 untuk menunda kenaikan produksi minyak pada Februari dan Maret 2026 karena faktor musiman. OPEC+ juga menegaskan tambahan produksi sebesar 1,65 juta barel per hari dapat dikembalikan ke pasar secara bertahap, bergantung pada perkembangan kondisi pasar.

Baca Juga: Turun Saat Awal Tahun, Harga Minyak Bakal Terdongkrak Invasi ke Venezuela?

“Negara-negara akan terus memantau dan menilai kondisi pasar, serta mempertahankan fleksibilitas penuh untuk menunda atau membalikkan penyesuaian produksi sukarela tambahan demi mendukung stabilitas pasar,” demikian pernyataan bersama OPEC+, yang dikutip di Jakarta, 4 Januari 2026.

Penegasan sikap OPEC+ ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Amerika Latin. Pada Sabtu (3/1/2026), Amerika Serikat menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro. Presiden AS Donald Trump menyatakan Washington akan mengambil alih kendali Venezuela hingga memungkinkan terjadinya transisi menuju pemerintahan baru, meski tidak merinci mekanisme pelaksanaannya.

Venezuela merupakan anggota Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan tercatat sebagai pemilik cadangan minyak terbesar di dunia. Berdasarkan data Energy Institute yang berbasis di London, Inggris, cadangan minyak Venezuela mencapai sekitar 303 miliar barel atau setara 17% dari cadangan minyak global. Jumlah tersebut melampaui cadangan minyak Arab Saudi.

Baca Juga: Trump Klaim Maduro Tertangkap, Harga Minyak Dunia Berguncang?

Kondisi politik Venezuela menjadi perhatian pelaku pasar energi global karena berpotensi memengaruhi stabilitas pasokan minyak, khususnya dari negara anggota OPEC. Ketidakpastian arah pemerintahan dan kebijakan energi di Venezuela dinilai dapat menambah tekanan pada pasar minyak dunia jika berdampak pada produksi dan ekspor minyak negara tersebut.

Dalam konteks ini, OPEC+ menegaskan kembali komitmen kolektif untuk mematuhi Declaration of Cooperation (DoC), termasuk penyesuaian produksi sukarela yang akan dipantau oleh Joint Ministerial Monitoring Committee (JMMC). OPEC+ juga menyatakan akan mengompensasi sepenuhnya setiap volume produksi yang melebihi kuota sejak Januari 2024.

Sebagai bagian dari pengelolaan pasar minyak global, delapan negara OPEC+ sepakat menggelar pertemuan bulanan untuk meninjau kondisi pasar, tingkat kepatuhan, dan mekanisme kompensasi produksi. Pertemuan berikutnya dijadwalkan berlangsung pada 1 Februari 2026.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Annisa Nurfitri

Advertisement

Bagikan Artikel: