Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Minyak Terdampak Konflik Timur Tengah, Adopsi Kompor dan Kendaraan Listrik Jadi Solusi Ketahanan Energi

        Minyak Terdampak Konflik Timur Tengah, Adopsi Kompor dan Kendaraan Listrik Jadi Solusi Ketahanan Energi Kredit Foto: Annisa Nurfitri
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Percepatan penggunaan kompor listrik dan kendaraan listrik dinilai dapat menjadi langkah penting untuk memperkuat ketahanan energi nasional, terutama di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik global.

        Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) Kholid Syeirazi mengatakan Indonesia masih memiliki ketergantungan yang cukup tinggi terhadap impor bahan bakar minyak (BBM) dan liquefied petroleum gas (LPG). Ketergantungan ini membuat sistem energi nasional rentan terhadap gejolak pasar internasional.

        "Selama ini kita masih banyak mengimpor BBM dan LPG. Dalam situasi pasar normal mungkin tidak terlalu terasa, tetapi ketika terjadi krisis geopolitik, harga bisa melonjak dan pasokan tersendat. Karena itu kita perlu memperkuat alternatif energi yang bersumber dari dalam negeri, salah satunya melalui kompor listrik dan kendaraan listrik,” ujar Kholid.

        Menurut dia, ketergantungan terhadap energi impor berpotensi menjadi risiko ketika terjadi konflik geopolitik yang dapat mengganggu rantai pasok global sekaligus memicu lonjakan harga energi.

        Karena itu, pemerintah dinilai perlu terus mendorong kebijakan elektrifikasi di berbagai sektor, mulai dari rumah tangga hingga transportasi.

        “Transisi energi pada akhirnya akan mengarah pada elektrifikasi. Kendaraan bermotor secara bertahap akan beralih dari BBM ke listrik, sementara kebutuhan energi rumah tangga seperti memasak juga didorong menggunakan listrik melalui kompor listrik,” katanya.

        Selain mengurangi ketergantungan terhadap impor energi, langkah tersebut juga dinilai sejalan dengan upaya diversifikasi sumber energi nasional sekaligus pemanfaatan potensi energi baru terbarukan yang dimiliki Indonesia.

        Kholid menyebut Indonesia memiliki potensi besar pada berbagai sumber energi terbarukan, seperti tenaga surya, angin, biofuel, serta sumber energi nabati lainnya.

        "Potensi energi terbarukan kita sangat besar. Itu yang ke depan akan menjadi bagian penting dari bauran energi nasional, sehingga target pengurangan emisi dan kemandirian energi dapat berjalan bersamaan,” ujarnya.

        Dari sisi sistem kelistrikan, ia menilai kapasitas listrik nasional masih memadai untuk menopang peningkatan kebutuhan listrik akibat proses elektrifikasi tersebut. Saat ini konsumsi listrik per kapita Indonesia masih relatif rendah dibandingkan negara maju.

        “Konsumsi listrik kita rata-rata sekitar 1.400 kWh per kapita per tahun. Angka ini masih jauh di bawah negara maju yang bisa mencapai lebih dari 10.000 kWh per kapita. Dengan adopsi kompor listrik dan kendaraan listrik, konsumsi listrik memang akan meningkat, tetapi dari sisi sistem, ketahanan energi di sektor listrik juga cukup kuat,” kata Kholid.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Ferry Hidayat

        Bagikan Artikel: