Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Konflik Iran-AS Memanas, BUMI Justru Diuntungkan

        Konflik Iran-AS Memanas, BUMI Justru Diuntungkan Kredit Foto: Istimewa
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        PT Bumi Resources Tbk (BUMI) memastikan konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah sejauh ini belum memberikan dampak langsung terhadap operasional maupun biaya produksi perusahaan.

        Chief Corporate Affairs & Sustainability Officer BUMI, Christopher Fong, mengatakan ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat justru mendorong kenaikan harga komoditas yang memberikan sentimen positif bagi kinerja perseroan.

        “Tidak berdampak. Justru kami melihat harga komoditas meningkat dan itu menjadi keuntungan bagi kami,” kata Christopher usai konferensi pers peluncuran logo baru di Jakarta, Kamis (12/3/2026).

        Menurut dia, konflik yang baru berlangsung sekitar 11–12 hari tersebut masih terlalu dini untuk menimbulkan dampak nyata terhadap biaya produksi maupun operasional perusahaan.

        “Seperti pihak lainnya, kami tentu membutuhkan stabilitas. Namun sejauh ini kami belum melihat adanya dampak terhadap operasional,” ujarnya.

        Sebelumnya, BUMI menetapkan target produksi batu bara pada 2026 di kisaran 77–78 juta ton. Target tersebut mengikuti rencana produksi dua entitas anak utama serta mempertimbangkan kondisi permintaan global yang masih relatif stagnan.

        Direktur BUMI, Maringan M. Ido Hotna Hutabarat, menjelaskan proyeksi produksi tahun depan tidak jauh berbeda dari capaian 2025. Kondisi serupa juga diperkirakan terjadi pada sisi penjualan, seiring pasar batu bara internasional yang belum menunjukkan pemulihan signifikan.

        Baca Juga: Emiten Bakrie dan Salim BUMI Rebranding Besar, Bidik Bisnis Emas hingga Bauksit

        Baca Juga: Nett Sell Capai Rp5,47 Triliun, Saham BBCA hingga BUMI Jadi Sasaran Jual Investor Asing

        Baca Juga: Pesta Cuan Saham Bakrie, Investor Serbu BUMI

        Menurutnya, pasar global saat ini masih menghadapi kelebihan pasokan. Dua produsen batu bara terbesar dunia bahkan memperkirakan surplus pasokan mencapai sekitar 10 juta ton.

        Kontribusi produksi terbesar BUMI pada 2026 tetap berasal dari PT Kaltim Prima Coal dengan target produksi sebesar 53,5 juta ton. Sementara itu, PT Arutmin Indonesia diarahkan menghasilkan sekitar 22–23 juta ton.

        Dengan demikian, total produksi batu bara BUMI diproyeksikan berada pada kisaran 77–78 juta ton dalam satu tahun kalender.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Dwi Aditya Putra
        Editor: Annisa Nurfitri

        Bagikan Artikel: