'Harga Telur Naik tapi Peternak Tak Menikmati,' Indonesia Geram Banyak Dapur Tak Jalankan Mandat MBG
Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Pemerintah mulai menunjukkan ketegasannya setelah menerima laporan bahwa kenaikan harga telur di pasar belum dirasakan oleh para peternak, meski Program Makan Bergizi Gratis (MBG) telah meningkatkan kebutuhan telur dalam jumlah besar.
Temuan tersebut memicu perhatian serius Badan Gizi Nasional (BGN). Lembaga itu menilai ada persoalan dalam rantai distribusi yang menyebabkan keuntungan dari meningkatnya permintaan justru lebih banyak dinikmati pihak perantara dibanding peternak.
Baca Juga: Jokowi Pada Akhirnya Juga Akan 'Menusuk dan Mengkhianati' Prabowo, Kata Politikus PDIP
Kepala BGN, Nanik Sudaryati Deyang mengaku menerima laporan langsung dari peternak yang mengeluhkan kondisi tersebut. Menurutnya, harga telur di tingkat ritel mengalami kenaikan, namun harga di tingkat kandang masih tertahan pada level rendah.
"Barusan saya dapat laporan dari para peternak bahwa harga di tingkat retail naik, tapi di tingkat peternakan tidak naik," ujar Nanik, dikutip Rabu (3/6).
Padahal, program MBG dirancang tidak hanya untuk memperbaiki gizi anak-anak Indonesia, tetapi juga menjadi instrumen penggerak ekonomi masyarakat melalui penyerapan hasil pertanian dan peternakan lokal.
BGN menilai tujuan tersebut belum tercapai sepenuhnya apabila peternak masih kesulitan mendapatkan harga yang layak. Karena itu, ia menginstruksikan seluruh SPPG untuk membeli telur langsung dari peternak setempat tanpa melalui rantai distribusi yang panjang.
"Hari ini saya instruksikan ulang, seluruh SPPG khususnya di Magetan membeli langsung ke peternak. Kalau tidak membeli langsung ke peternak, dapurnya saya suspensi," tegasnya.
Keluhan serupa disampaikan para peternak di Kabupaten Magetan, Jawa Timur. Mereka mengaku stok telur masih menumpuk di kandang karena serapan dari dapur MBG belum maksimal.
Salah seorang peternak, Teguh, mengungkapkan sebagian dapur MBG hanya membeli telur dalam jumlah kecil yang tidak sebanding dengan kebutuhan operasional harian mereka.
Menurutnya, kebutuhan telur untuk satu dapur MBG seharusnya mencapai sekitar 1,5 kuintal per hari. Namun dalam praktiknya, ada dapur yang hanya membeli sekitar 15 hingga 30 kilogram telur.
"MBG itu seharusnya memerlukan sekitar satu setengah kuintal. Tapi yang diambil hanya satu kotak 15 kilogram atau dua kotak 30 kilogram," ujarnya.
Kondisi tersebut membuat harga telur di tingkat peternak tetap berada di bawah Harga Acuan Pembelian (HAP) yang ditetapkan pemerintah. Saat ini harga telur di kandang peternak Magetan masih berkisar Rp21.000 hingga Rp22.800 per kilogram, jauh di bawah acuan Rp26.500 per kilogram.
BGN pun meminta seluruh pihak yang terlibat dalam rantai pasok MBG segera melakukan pembelian langsung dari peternak agar manfaat ekonomi program benar-benar dirasakan masyarakat bawah.
Baca Juga: Oman dalam Bidikan Amerika, Tinggalkan Iran atau Terancam Sanksi hingga Aksi Militer
Pemerintah berharap peningkatan permintaan dari program MBG dapat segera mengangkat harga telur di tingkat peternak sehingga kesejahteraan produsen lokal ikut meningkat seiring jalannya program nasional tersebut.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Aldi Ginastiar
Tag Terkait: