Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        RI Buka Opsi Impor Minyak dari Rusia Hingga Brunei

        RI Buka Opsi Impor Minyak dari Rusia Hingga Brunei Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Pemerintah membuka peluang impor minyak mentah dari berbagai negara, termasuk Rusia hingga Brunei Darussalam, sebagai langkah antisipatif menghadapi ketidakpastian geopolitik global yang berpotensi mengganggu pasokan energi.

        Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan, pemerintah tidak membatasi sumber impor selama harga kompetitif.

        “Kenapa tidak? Amerika saja sekarang sudah membuka untuk Rusia,” ujar Bahlil saat pelepasan mudik bersama Kementerian ESDM di Jakarta, Selasa (17/3/2026).

        Menurutnya, diversifikasi sumber pasokan menjadi kunci menjaga ketahanan energi nasional, terutama di tengah dinamika geopolitik global yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda.

        “Semua negara ada kemungkinan (impor crude)."

        "Yang penting bagi kita sekarang adalah bagaimana barangnya ada, yang kedua harganya kompetitif. Itu yang paling penting,” jelasnya.

        Langkah ini menjadi semakin relevan seiring meningkatnya tensi di kawasan Timur Tengah, yang berdampak langsung terhadap distribusi energi global.

        Gangguan pada jalur strategis seperti Selat Hormuz, mendorong lonjakan harga minyak dunia.

        Berdasarkan laporan Reuters, pada perdagangan 17 Maret 2026, harga minyak Brent melonjak US$2,48 atau sekitar 2,5%, ke level US$102,69 per barel.

        Sementara, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik US$2,42 atau 2,6%, menjadi US$95,92 per barel.

        Kenaikan ini sekaligus menghapus pelemahan pada sesi sebelumnya, setelah sempat muncul optimisme dari kelancaran jalur pelayaran.

        Di tengah kondisi tersebut, opsi impor dari Rusia dinilai semakin realistis.

        Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) Kholid Syeirazi menyebut pelonggaran kebijakan perdagangan oleh Amerika Serikat terhadap Rusia, membuka momentum baru bagi Indonesia untuk memperluas sumber pasokan energi.

        “Dengan pelonggaran Amerika ini, saya kira momentum untuk mulai meningkatkan sumber-sumber pasokan, termasuk dari Rusia,” ujarnya kepada Warta Ekonomi, saat ditemui di KM 57 Cikampek, Jawa Barat, Senin (16/3/2026).

        Selain faktor geopolitik, aspek teknis juga menjadi pertimbangan.

        Kholid menjelaskan, mayoritas minyak Rusia berjenis light crude yang relatif kompatibel dengan kilang dalam negeri.

        “Kilang kita sudah cukup kompleks, bisa mengolah heavy crude maupun light crude, sehingga secara teknis tidak menjadi kendala,” tambahnya.

        Di sisi lain, pemerintah juga menjajaki potensi impor dari kawasan regional.

        Dalam pertemuan bilateral dengan Deputy Minister (Energy) di Prime Minister’s Office Brunei Darussalam Dato Seri Paduka Awang Haji Mohammad Azmi bin Haji Mohd Hanifah di Jepang, Bahlil menyebut Brunei menjadi salah satu opsi strategis.

        Dengan kapasitas produksi sekitar 100–110 ribu barel per hari, Brunei dinilai dapat menjadi alternatif tambahan dalam memperkuat pasokan energi nasional.

        “Penjajakan impor minyak bumi dari Brunei menjadi salah satu opsi strategis yang kita dorong, sekaligus memastikan ketersediaan pasokan energi nasional dalam kondisi aman,” tuturnya.

        Baca Juga: Indonesia Cari Minyak ke Brunei, Brunei Justru Minta Belajar Teknologi EOR dari Pertamina

        Meski situasi global tengah bergejolak, pemerintah memastikan kondisi energi dalam negeri tetap terkendali, termasuk menjelang Idulfitri 1447 Hijriah.

        “Saya sampaikan kepada teman-teman media, dalam beberapa hari terakhir ketersediaan BBM, LPG, dan listrik untuk Indonesia semuanya masih dalam keadaan terkendali, aman sesuai dengan standar minimal stok nasional kita,” imbuh Bahlil. (*)

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
        Editor: Yaspen Martinus

        Bagikan Artikel: