Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Prabowo Minta Perguruan Tinggi Kaji Alternatif Penghematan BBM & Percepat Elektrifikasi

        Prabowo Minta Perguruan Tinggi Kaji Alternatif Penghematan BBM & Percepat Elektrifikasi Kredit Foto: Dok. BPMI
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Presiden Prabowo Subianto meminta Menteri Pendidikan Tinggi Sains dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto, mengerahkan kekuatan akademik mulai dari perguruan tinggi, pakar, hingga guru besar untuk merumuskan berbagai alternatif penghematan, khususnya dalam menekan konsumsi bahan bakar minyak (BBM).

        "Karena kita memiliki banyak kampus, pakar-pakar, guru besar, itu kita diminta mengkaji bagaimana kemungkinan-kemungkinan untuk bisa dilakukan efisiensi ya, penghematan," kata Brian di Istana, Jakarta, dikutip Jumat (20/3/2026).

        Ia menekankan, tingginya harga minyak dunia membuat Indonesia tidak boleh lengah. Sehingga diperlukan kajian-kajian mencakup upaya pengurangan konsumsi BBM impor, termasuk solar, bensin, hingga gas seperti LPG untuk kebutuhan rumah tangga.

        "Jadi kita mencari alternatif-alternatif. Nah ini kita teman-teman perguruan tinggi diminta untuk melakukan kajian, penelitian, sehingga bagaimana strategi implementasi itu bisa dilakukan segara," jelas dia.

        Terkait fokus elektrifikasi, Brian menyebut sektor transportasi dan pembangkit listrik akan menjadi prioritas utama pemerintah. Penggunaan motor listrik, khususnya untuk kendaraan berkapasitas mesin kecil, dinilai berpotensi dalam menekan impor BBM.

        "Seharusnya impor BBM kita jauh berkurang ya," imbuh dia.

        Selain itu, Prabowo juga menargetkan pengurangan penggunaan pembangkit listrik berbasis diesel yang selama ini masih bergantung pada solar. 

        Presiden bahkan mendorong agar pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) dapat secara bertahap dihapus dan digantikan dengan energi baru terbarukan, seperti pembangkit listrik tenaga surya (PLTS).

        "Secara lingkungan juga kurang bagus, kalau itu bisa diganti dengan renewable energy itu akan menjadi sangat baik itu," kata dia.

        Di luar itu, lanjut Brian, kompor listrik juga masuk dalam lingkup yang diminta Prabowo untuk dikaji. Kajian juga turut mencakup konversi kendaraan berbahan bakar fosil ke listrik serta penggantian pembangkit listrik berbasis diesel.

        "Semua ini kami diminta mengkaji ya tentu implementasi ada kementerian teknis lain, tapi kami di Kementerian Dikti diminta mengkaji dengan cepat supaya strategi implementasinya berjalan dengan baik," jelas dia.

        Brian berharap kajian-kajian tersebut ditargetkan rampung dalam waktu dekat. Bahkan, hasil rekomendasi diperkirakan sudah dapat diserahkan kepada kementerian teknis paling lambat April 2026.

        "Temen-teman sudah mulai berjalan di perguruan tinggi. Mungkin dalam waktu cepat kita bisa rekomendasikan atau kajian itu bisa diserahkan kepada kementerian teknis. April lah (selesai)," pungkas dia.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Dwi Aditya Putra
        Editor: Fajar Sulaiman

        Bagikan Artikel: