Kredit Foto: Ist
Pasukan Bawah Tanah (Pasbata) Prabowo wilayah Gunungkidul mengunjungi rumah Ahmad Tri Efendi (10) di Jeruken, Girisekar, Panggang, sebagai bentuk kepedulian terhadap anak yang putus sekolah demi merawat kedua orang tuanya yang sakit.
Dalam kunjungan tersebut, Pasbata menyalurkan bantuan berupa kebutuhan pokok seperti beras, minyak, dan perlengkapan harian lainnya. Bantuan diberikan untuk meringankan beban keluarga Efendi yang tengah menghadapi kondisi sulit.
Rombongan juga bertemu dengan Slamet, ayah Efendi, untuk memberikan dukungan moril serta mendorong agar anaknya dapat kembali melanjutkan pendidikan.
Efendi diketahui merawat ibunya yang mengalami kelumpuhan akibat stroke dan gangguan saraf, serta ayahnya yang juga menderita gangguan serupa. Di usia yang masih 10 tahun, ia menjalani keseharian dengan merawat ibunya, mulai dari memberi minum hingga menjaga hingga larut malam.
Ketua DPC Pasbata Prabowo Gunungkidul, Martin, mengatakan pihaknya terpanggil untuk membantu kondisi tersebut.
"Kami hadir untuk Efendi. Jangan sampai ada anak Indonesia yang kehilangan masa depan hanya karena kondisi keluarga. Ini panggilan kemanusiaan," ujarnya, Kamis (19/3).
Ia menambahkan, Pasbata siap berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan pihak terkait untuk membantu Efendi kembali bersekolah, sekaligus mencarikan solusi bagi kondisi kesehatan orang tuanya.
Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Gunungkidul sebelumnya telah menyatakan komitmen untuk membantu Efendi kembali mengenyam pendidikan melalui pendekatan khusus, serta memastikan kedua orang tuanya mendapatkan penanganan kesehatan yang layak.
Ketua RT setempat, Wahono, menyebut Efendi sempat bersekolah, namun terpaksa berhenti saat naik dari kelas satu ke kelas dua karena kondisi ibunya yang memburuk, mulai dari gangguan penglihatan hingga berujung lumpuh.
"Karena ibunya sakit, Efendi berhenti sekolah. Tidak ada dukungan dari orang tua karena keduanya juga sakit,” kata Wahono.
Ia menambahkan, dalam kondisi tersebut Efendi menjadi sosok yang paling aktif merawat ibunya.
"Efendi selalu merawat ibunya, memegangi, memberi minum. Kehadirannya bisa membuat ibunya tersenyum,” ujarnya.
Berbagai upaya telah dilakukan oleh keluarga, pihak sekolah, dan warga agar Efendi dapat kembali bersekolah. Bahkan, sempat ada tawaran sekolah gratis di panti asuhan di Bantul, namun ditolak karena Efendi tidak ingin jauh dari ibunya.
“Kalau di panti, pulangnya beberapa bulan sekali. Efendi tidak mau jauh dari ibunya,” kata Wahono.
Aksi ini menjadi bentuk kepedulian sosial untuk memastikan anak-anak tetap mendapatkan hak pendidikan di tengah keterbatasan kondisi keluarga.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Ferry Hidayat
Tag Terkait: