Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Serangan Kilang dan Penutupan Hormuz Picu Gangguan Energi Global, Harga Minyak Tertahan di US$110

        Serangan Kilang dan Penutupan Hormuz Picu Gangguan Energi Global, Harga Minyak Tertahan di US$110 Kredit Foto: Istimewa
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Konflik antara Amerika Serikat–Israel dan Iran kembali mengguncang pasar energi global setelah Iran menyerang kilang minyak di Kuwait dan Israel menewaskan pejabat Garda Revolusi Iran, memicu gangguan pasokan hingga sekitar 12 juta barel per hari atau setara 12% permintaan global.

        Eskalasi terbaru terjadi pada Jumat (20/3/2026), ketika perusahaan minyak negara Kuwait melaporkan kilang Mina Al-Ahmadi terkena serangan drone yang menyebabkan kebakaran di sejumlah unit produksi.

        Di saat yang sama, militer Israel menyatakan telah menyerang fasilitas pemerintah di Teheran, sementara televisi pemerintah Iran mengonfirmasi tewasnya Ali Mohammad Naini, wakil kepala hubungan masyarakat Garda Revolusi Iran.

        Konflik yang memasuki pekan keempat ini juga berdampak langsung pada distribusi energi global, terutama setelah Iran secara de facto menutup Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak dan gas alam cair dunia.

        Gangguan tersebut memicu lonjakan harga minyak mentah global. Harga acuan Brent sempat melonjak dan kini bertahan di kisaran US$110 per barel, mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap potensi krisis energi yang lebih luas.

        Selain itu, serangan balasan Iran sebelumnya terhadap fasilitas energi di Qatar turut memperburuk kondisi pasokan gas global dan diperkirakan akan berdampak dalam jangka panjang.

        Sejumlah negara konsumen energi mulai merasakan dampak langsung, termasuk penurunan pasokan serta potensi gangguan pada sektor transportasi, manufaktur, dan logistik yang bergantung pada minyak dan gas.

        Negara-negara sekutu Barat seperti Jerman, Inggris, Prancis, Italia, Belanda, Jepang, dan Kanada menyatakan siap mendukung upaya menjaga keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz, meski menegaskan bahwa keterlibatan tersebut bergantung pada tercapainya gencatan senjata.

        Kanselir Jerman Friedrich Merz menyatakan dukungan tersebut mensyaratkan penghentian konflik, sementara Presiden Prancis Emmanuel Macron menekankan pentingnya deeskalasi dan kepatuhan terhadap hukum internasional.

        Di sisi lain, perbedaan strategi antara Amerika Serikat dan Israel dinilai memperumit upaya penyelesaian konflik. Pemerintah Israel disebut berfokus pada pelemahan kepemimpinan Iran, sementara Amerika Serikat menargetkan kemampuan militer strategis Iran, termasuk rudal balistik dan kekuatan laut.

        Situasi di lapangan menunjukkan konflik masih jauh dari mereda. Iran dilaporkan terus meluncurkan serangan rudal ke wilayah Israel, sementara produksi rudal tetap berjalan.

        Baca Juga: Rusia Bantu Iran Targetkan Pasukan AS, Sinyal Perang Proksi Memanas

        Baca Juga: Putin Kutuk Pembunuhan Pejabat Iran, Sinyal Eskalasi Konflik ke Level Global

        Baca Juga: Saat Perangi Iran, Amerika Serikat Ternyata Jualan Senjata ke Timur Tengah

        Di tengah eskalasi tersebut, laporan menyebutkan Amerika Serikat mempertimbangkan opsi penguatan militer di kawasan Timur Tengah, termasuk kemungkinan pengerahan pasukan tambahan.

        Konflik ini telah menimbulkan dampak kemanusiaan signifikan dengan korban jiwa mencapai ribuan orang dan jutaan lainnya mengungsi, terutama di Iran dan Lebanon.

        Dengan terganggunya pasokan energi global dan meningkatnya ketidakpastian geopolitik, pasar menghadapi risiko berkepanjangan yang berpotensi memicu tekanan ekonomi global dalam jangka menengah hingga panjang.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Annisa Nurfitri

        Bagikan Artikel: