Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Amerika Serikat Bantah Kekurangan Dana untuk Perang Iran

        Amerika Serikat Bantah Kekurangan Dana untuk Perang Iran Kredit Foto: Reuters
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Amerika Serikat menyatakan memiliki dana yang cukup untuk membiayai perang melawan Iran. Namun di sisi lain mereka tetap mengajukan permintaan anggaran tambahan kepada Kongres di Washington.

        Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent menegaskan bahwa dana tambahan tersebut bersifat pelengkap, bukan karena kekurangan anggaran saat ini.

        Baca Juga: Waspada Krisis Kemanusiaan, Timur Tengah Dibuat Membara Adu Tekanan Amerika Serikat dan Iran

        “Kami memiliki cukup uang untuk mendanai perang ini. Ini adalah tambahan untuk memastikan militer tetap siap,” ujarnya, dikutip dari NBC.

        Bessent juga menegaskan bahwa pemerintah tidak mempertimbangkan kenaikan pajak untuk membiayai perang.

        Menurut pemerintah, dana tambahan dibutuhkan untuk mengganti amunisi dan perlengkapan yang telah digunakan, menjaga kesiapan militer jangka panjang dan mengantisipasi eskalasi konflik di masa depan.

        Adapun permintaan anggaran ini juga dilihat sebagai cerminan meningkatnya tekanan fiskal akibat konflik yang berkepanjangan, sekaligus berpotensi memicu perdebatan politik di AS. Di tengah ketidakpastian durasi perang, keputusan terkait pendanaan akan menjadi faktor penting dalam menentukan arah kebijakan militer dari Washington.

        Permintaan tambahan anggaran militer sendiri diperkirakan mencapai ratusan miliar dolar, i a sejauh ini menghadapi penolakan di Kongres. Sejumlah anggota mempertanyakan urgensi permintaan tersebut, mengingat anggaran pertahanan besar telah disetujui pada tahun sebelumnya.

        Baca Juga: Prabowo Bilang Indonesia Satu-satunya Negara Bisa Renegosiasi Perjanjian Tarif Amerika Serikat

        Pejabat pemerintah sebelumnya mengungkapkan bahwa biaya perang dalam enam hari pertama saja telah mencapai lebih dari US$11 miliar. Jika tren ini berlanjut, konflik terbaru ini berpotensi menjadi salah satu perang termahal bagi Amerika Serikat.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Aldi Ginastiar

        Bagikan Artikel: