- Home
- /
- New Economy
- /
- Energi
INDEF: Ketegangan Timur Tengah Buka Risiko Harga Minyak di Atas 150 Dollar
Kredit Foto: Istimewa
Kepala Center of Food, Energy, and Sustainable Development Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Abra Talattov mengatakan eskalasi konflik di Timur Tengah mendorong harga minyak mentah dunia bertahan di level tinggi dan membuka risiko kenaikan lebih lanjut.
Menurut dia, konflik yang telah memasuki pekan keempat antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran membuat harga minyak dunia bergerak fluktuatif, namun cenderung tetap berada di atas 100 dollar AS per barel. Level tersebut jauh melampaui asumsi Indonesian Crude Price (ICP) dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun ini sebesar 70 dollar AS per barel.
“Kita hari ini memasuki minggu keempat eskalasi perang antara AS-Israel dengan Iran. Perkembangan harga minyak mentah dunia naik-turun, tetapi kecenderungannya masih di atas 100 dolar per barel,” ujar Abra di Jakarta, Selasa (24/3/2026).
Ia menambahkan, harga minyak yang bertahan tinggi tersebut berpotensi meningkatkan tekanan terhadap fiskal pemerintah. Selisih antara harga minyak saat ini dengan asumsi APBN dinilai cukup lebar, sehingga berisiko meningkatkan beban subsidi dan kompensasi energi.
“Harga saat ini misalnya 103 dolar per barel itu sudah lebih tinggi 47% dibandingkan asumsi ICP kita 70 dolar per barel. Ketika harga minyak bertahan tinggi, ditambah faktor nilai tukar rupiah dan yield SBN, ada potensi tambahan defisit APBN,” lanjut Abra.
Baca Juga: INDEF: Kendaraan Listrik Jadi Strategi Redam Risiko Lonjakan Harga Minyak Dunia
Di tengah tekanan tersebut, Abra juga mengingatkan risiko kenaikan harga minyak masih terbuka apabila eskalasi konflik terus meningkat. Menurut dia, ketegangan geopolitik yang semakin tinggi berpotensi mengganggu pasokan energi global.
“Kita tidak tahu apakah harga minyak mentah nanti bisa menyentuh melewati 150 dolar per barel, apalagi sekarang eskalasinya benar-benar sangat tegang,” ujarnya.
Ia menambahkan, meningkatnya ketegangan tersebut dipicu ancaman terhadap fasilitas energi di kawasan Timur Tengah yang berpotensi memperluas konflik dan memengaruhi pasokan minyak global.
“Ada ancaman untuk menyerang infrastruktur energi di Iran dan ada ancaman balasan juga oleh Iran ke negara-negara yang menjadi pangkalan militer Amerika di wilayah Timur Tengah,” tutup Abra.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Istihanah