Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Pasca Libur Lebaran, IHSG Rabu (25/3) Dibuka Melemah ke Level 7.084

        Pasca Libur Lebaran, IHSG Rabu (25/3) Dibuka Melemah ke Level 7.084 Kredit Foto: Annisa Nurfitri
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melemah ke level 7.084,62 pada perdagangan Rabu, 25 Maret 2026. Namun, beberapa menit setelah perdagangan dibuka, IHSG balik arah ke zona hijau. 

        Berdasarkan data RTI pada pukul 09.05 WIB, IHSG naik tipis 2,89 poin atau 0,04% ke 7.109,72. Pergerakan saham pun didominasi tren positif. Sebanyak 301 saham menguat, 248 saham bergerak turun dan 174 saham lainnya stagnan. 

        Per pagi hari ini, IHSG sudah mencatatkan volume perdagangan 4,41 miliar lembar saham dengan frekuensi 200.477 kali. Adapun nilai transaksi yang dibukukan mencapai Rp2,96 triliun. 

        PT Alakasa Industrindo Tbk (ALKA) menjadi saham top losers dengan penurunan tajam -14,47% ke Rp680. Diikuti PT Bersama Zatta Jaya Tbk (ZATA) yang merosot -14,08% ke Rp61 dan PT Nusantara Almazia Tbk (NZIA) yang terkoreksi -13,5% ke Rp141. 

        Di jajaran top gainers ada PT Esta Multi Usaha Tbk (ESTA) yang terbang 25% ke Rp190, PT Pelat Timah Nusantara Tbk (NIKL) yang meroket 24,82% ke Rp342 dan PT Sunson Textile Manufacture Tbk (SSTM) yang melesat 20% ke Rp600. 

        Baca Juga: Prediksi IHSG Rabu (25/3) Usai Libur Lebaran dan Rekomendasi Saham dari BRI Sekuritas

        Baca Juga: Bursa Suspensi Saham MGLV Imbas Harga Naik Tajam

        Beberapa analis memperkirakan pergerakan IHSG hari ini akan berpeluang menguat terbatas. Meski demikian pelaku pasar perlu mencermati risiko eksternal yang berpotensi menekan laju penguatan.

        Secara teknikal penguatan IHSG masih terbatas, cenderung bergerak dalam fase konsolidasi, berpotensi menguji resistance di kisaran 7.150-7.200. 

        Analis Indo Premier menilai, IHSG akan menerima semua gejolak yang timbul. Potensi open gap down bisa dijadikan momentum buy on dip dengan data historis menunjukkan kejatuhan indeks dari titik tertinggi atau sering disebut drawdown tertahan pada area 25-30% sebelum indeks akhirnya berbalik menguat kembali. 

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Belinda Safitri
        Editor: Belinda Safitri

        Bagikan Artikel: