Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Na Willa Jadi Bukti Kreativitas Perfilman Indonesia

        Na Willa Jadi Bukti Kreativitas Perfilman Indonesia Kredit Foto: Unsplash/Markus Winkler
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Pemutaran terbatas film Na Willa di Plaza Indonesia XXI, Jakarta, yang digelar Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf) bersama Visinema Studios menjadi bukti nyata kreativitas perfilman Indonesia.

        Wakil Menteri Ekonomi Kreatif, Irene Umar, mengatakan film tersebut digarap dengan detail, mulai dari komposisi visual hingga elemen desain yang memperkuat pengalaman menonton.

        Baca Juga: Kemenkop Perkuat Ekosistem Perikanan Lewat Industri Pendukung

        “Saya sangat mengapresiasi bagaimana setiap elemen di film ini dipikirkan dengan sangat detail, dari komposisi warna hingga desain visualnya. Ini menunjukkan keseriusan dalam membangun sebuah dunia yang utuh dan imajinatif,” ucapnya, dikutip dari siaran pers Kemenekraf, Rabu (25/3).

        Film Na Willa disutradarai dan ditulis oleh Ryan Adriandhy dan diproduksi oleh Visinema Studios. Karya ini mengangkat kisah keseharian seorang anak perempuan berusia enam tahun di Surabaya pada era 1960-an, yang tumbuh di lingkungan sederhana dengan penuh imajinasi, keajaiban, dan kebahagiaan dalam memandang dunia.

        Produser Eksekutif Na Willa sekaligus CEO Visinema Studios, Herry B. Salim, menjelaskan bahwa kegiatan ini terselenggara atas hasil kolaborasi dengan Kementerian Ekraf. Ia menekankan pentingnya menghadirkan cerita yang tidak hanya menghibur, tetapi juga membekas secara emosional dan menetap di hati penonton. Menurutnya, Na Willa yang diadaptasi dari novel karya Reda Gaudiamo berhasil menghadirkan dunia dari sudut pandang anak-anak dengan sederhana, jujur, dan imajinatif.

        “Bagi kami di Visinema, setiap kali kami ingin membuat sebuah karya, kami selalu memulai dengan satu pertanyaan sederhana: cerita seperti apa yang akan memberikan makna dan menetap di hati para penontonnya, bahkan menjadi bagian dari core memory mereka. Kami melihat bahwa masyarakat Indonesia merindukan cerita-cerita yang hangat, yang bisa menyentuh relung hati serta mempererat kebersamaan, hubungan keluarga, maupun persahabatan. Na Willa bukan sekadar tontonan, tapi sebuah undangan untuk mengingat kembali hangatnya keluarga, persahabatan, serta kebersamaan dalam hidup kita,” ujarnya.

        Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda, yang juga turut menyaksikan pemutaran tersebut berharap semakin banyak karya film dengan tema beragam yang dapat memberikan nilai bagi masyarakat.

        “Harapannya semakin banyak film-film seperti Na Willa yang bukan hanya tentang menonton tapi setelah kita pulang kita bisa membawa cerita, rasa, kembali ke rumah. Dan rasa itu bisa mengingatkan kita tentang value, hidup, integritas, kejujuran, bukan hanya tentang mengisi waktu, tetapi setelah menonton ada lesson learned, ada value yang kita bisa bawa pulang ke rumah dan di hidup,” ujarnya.

        Baca Juga: Menkop Soroti Dana Umat Ratusan Triliun yang Belum Terserap Optimal

        Sutradara sekaligus Penulis Na Willa, Ryan Adriandhy, menyampaikan apresiasinya atas dukungan pemerintah terhadap perkembangan industri perfilman nasional. Ia berharap Na Willa dapat menjadi pilihan utama keluarga Indonesia di momen Lebaran tahun ini.

        “Harapannya, Na Willa bisa menjadi film yang menemani keluarga Indonesia di momen Lebaran, sebuah cerita yang hangat, sederhana, dan bisa dinikmati bersama orang-orang terdekat. Kami ingin menghadirkan pengalaman menonton yang tidak hanya berhenti di bioskop, tetapi juga tinggal sebagai rasa yang dibawa pulang, tentang keluarga, kebersamaan, dan kebahagiaan. Semoga Na Willa bisa menjadi bagian dari momen #BahagiaBarengNaWilla bagi banyak keluarga Indonesia” ujarnya.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
        Editor: Ulya Hajar Dzakiah Yahya

        Bagikan Artikel: