Amerika Serikat Tuntut Ukraina Serahkan Donbas ke Rusia: Demi Jaminan Keamanan
Kredit Foto: Reuters/Valentyn Ogirenko
Amerika Serikat kembali memberikan tekanan terhadap Ukraina. Kiev kali ini diminta menyerahkan sebagian wilayahnya sebagai syarat mendapatkan jaminan keamanan dari Washington.
Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskiy mengungkapkan bahwa pihaknya diminta untuk menyerahkan wilayah timur dari Donbas ke Rusia. Hal itu dilakukan untuk mendapatkan jaminan keamanan dalam negosiasi damai dari Kiev dan Moskow.
Baca Juga: Trump Klaim Iran Ingin Damai: Mereka Takut Dibunuh Rakyatnya dan Amerika Serikat
“Donald Trump, menurut saya, masih memilih strategi menekan Ukraina,” ujar Zelenskiy, dikutip dari Reuters.
Washington menurutnya terus memberikan tekanan seiring fokus mereka yang teralihkan pada konflik dengan Iran. Hal tersebut membuat mereka dipaksa untuk mempercepat penyelesaian perang yang telah berlangsung selama empat tahun sejak invasi dari Rusia di 2022.
Menurut Zelenskiy, Amerika Serikat bersedia meresmikan jaminan keamanan tingkat tinggi jika pihaknya bersedia menarik diri dari Donbas.
Zelenskiy memperingatkan bahwa menyerahkan wilayah tersebut akan berdampak serius terhadap keamanan nasional dan regional dari Eropa. Donbas menurutnya merupakan bagian penting dari sistem pertahanan negara.
“Bagian timur negara kami adalah bagian dari jaminan keamanan kami,” katanya.
Selain isu wilayah, masih ada sejumlah hal yang belum jelas terkait jaminan keamanan yang ditawarkan oleh Amerika Serikat. Hal tersebut terkait dengan siapa yang akan mendanai kebutuhan militer dan bagaimana respons sekutu jika kembali ada serangan dari Rusia ke Ukraina.
Zelenskiy menekankan pentingnya jaminan konkret agar konflik tidak kembali terulang di masa depan. Ia khawatir bahwa kesepakatan tidak akan menyurutkan ambisi ekspansi dari Moskow.
Wilayah Donbas merupakan salah satu target utama perang bagi Rusia. Presiden Rusia, Vladimir Putin telah lama menegaskan bahwa penguasaan penuh atas kawasan tersebut adalah tujuan strategis dari Moskow. Namun, kemajuan militer negara tersebut dalam wilayah tersebut berjalan lambat dalam dua tahun terakhir menyusul pembangunan pertahanan kuat oleh Ukraina.
Adapun Amerika Serikat, Rusia dan Ukraina telah menggelar beberapa putaran perundingan trilateral dalam berbagai lokasi seperti Abu Dhabi dan Jenewa di 2026. Meski demikian, kesepakatan akhir masih belum tercapai, dengan perbedaan posisi yang tajam antara pihak-pihak terkait.
Terbaru, Zelenskiy mengatakan bahwa pihaknya mendapatkan laporkan bahwa terdapat upaya pemerasan dari Rusia ke Amerika Serikat. Moskow menurutnya tengah menawarkan kesepakatan penghentian berbagi intelijen ke Iran. Sebaliknya, Amerika Serikat diminta untuk menghentikan pemberian dukungan intelijen Washington ke Ukraina.
Ukraina sendiri tengah berupaya menahan ofensif musim semi terbaru dari Rusia. Hal ini menyusul mandeknya perundingan damai yang didukung Amerika Serikat. Kiev diketahui akan memanfaatkan keberhasilan taktis terbaru serta inovasi dalam medan perang seperti serangan jarak menengah.
Fokus dari kampanye yang telah lama diantisipasi ini adalah apa yang disebut sebagai “Sabuk Benteng” (Fortress Belt). Ia merupakan rangkaian kota yang dipertahankan secara ketat di Timur Donetsk, Ukraina.
Baca Juga: Konflik Iran-Amerika Serikat, Blokade Selat Hormuz Dicap Terorisme Ekonomi
Rusia dalam sepekan terakhir sudah melancarkan serangan berskala batalion di Timur Sloviansk, Pokrovsk dan Kostiantynivka. Hal itu dilakukan dengan tujuan menciptakan kondisi bagi ofensif yang lebih luas.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Aldi Ginastiar
Tag Terkait: