Konflik Iran-Amerika Serikat, Blokade Selat Hormuz Dicap Terorisme Ekonomi
Kredit Foto: Annisa Nurfitri
Chief Executive Officer (CEO) Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC) Sultan Al Jaber mengecam keras potensi pembatasan jalur pelayaran di Selat Hormuz. Selat tersebut diketahui telah menjadi salah satu alat tekanan geopolitik yang digunakan oleh Iran.
Al Jaber mengatakan bahwa tindakan tersebut merupakan bentuk “terorisme ekonomi” karena berpotensi mengganggu jalur energi global akan berdampak luas terhadap seluruh negara.
Baca Juga: Ukraina Sebut Rusia Diam-diam Memeras Amerika Serikat Lewat Konflik Iran
“Iran menyandera Selat Hormuz. Setiap negara harus membayar tebusannya baik di pom bensin, di toko bahan makanan hingga di apotek,” ujarnya, dikutip dari Reuters.
Menurut Al Jaber, Selat Hormuz merupakan jalur vital bagi distribusi energi dunia. Gangguan terhadap jalur ini tidak hanya berdampak pada harga minyak, tetapi juga pada biaya hidup masyarakat global hingga stabilitas ekonomi dunia.
Ia menegaskan bahwa tidak boleh ada negara yang diizinkan mengguncang ekonomi global dengan cara yang dilakukan oleh Iran.
Al Jaber menekankan bahwa solusi jangka panjang untuk menstabilkan pasar adalah memastikan kebebasan navigasi di Selat Hormuz. Ia menyebut akses terbuka dan aman sebagai satu-satunya cara untuk menjaga kelancaran pasokan energi dan stabilitas harga global.
Selat Hormuz selama ini menjadi jalur utama bagi sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia. Ketegangan dalam kawasan tersebut telah menyebabkan volatilitas tinggi dalam pasar energi menyusul perang dari Israe, Amerika Serikat dan Iran.
Adapun Chief Executive Officer (CEO) BlackRock, Larry Fink mengatakan bahwa jika konflik mereda, risiko terhadap jalur perdagangan dan keamanan energi tetap tinggi jika tak ada tindakan terhadap manuver dari Iran di Selat Hormuz.
Ia menilai ancaman terhadap jalur vital pelayaran kapal tanker energi tersebut dapat membuat harga minyak bertahan lama di atas level dari US$100 hingga US$150. Menurutnya, skenario tersebut akan membawa dampak besar terhadap perekonomian global.
Fink menegaskan bahwa lonjakan harga energi ke level tersebut hampir pasti akan mendorong dunia ke dalam resesi, mengingat efek berantai terhadap inflasi, daya beli dan pertumbuhan ekonomi.
Harga minyak sendiri telah bergerak sangat volatil sejak dimulainya perang antara Amerika Serikat, Israel dan Iran. International Energy Agency bahkan menyebut gangguan yang terjadi sebagai yang terbesar dalam sejarah, mencerminkan skala dampak terhadap pasar energi global.
Diketahui, Amerika Serikat baru-baru ini menyebut bahwa pembicaraan negosiasi damai masih berlangsung dengan Iran. Washington menyebut bahwa pembicaraan bersifat produktif dan bisa berujung kesepakatan dengan Teheran.
Menurut laporan, proposal ini sendiri berisi lima belas poin yang telah diajukan oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Menurut laporan, proposal terkait menekankan pentingnya penghentian pengembangan teknologi nuklir oleh Iran.
Trump ingin negara tersebut untuk menghancurkan stok uranium yang diperkaya tinggi dan menghentikan program pengayaan uranium. Iran juga diminta untuk membatasi program rudal balistik dan menghentikan dukungan mereka terhadap sekutu regional di Timur Tengah.
Iran sendiri dilaporkan masih meninjau proposal untuk mengakhiri konflik dengan Israel dan Amerika Serikat. Sebelumnya, Teheran memberikan respons yang negatif dan menyatakan tidak ada negosiasi dengan Washington.
Baca Juga: BlackRock Peringatkan Ancaman Resesi Global Jika Iran Tetap Jadi Ancaman di Timur Tengah
Laporan terkait sempat membuat harga minyak turun, namun ketidakpastian yang tinggi membuat pasar masih sensitif terhadap setiap perkembangan geopolitik, terutama terkait potensi eskalasi lanjutan.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Aldi Ginastiar
Tag Terkait: