Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Rusia Bertaruh Amerika Serikat Akan Tinggalkan Ukraina

        Rusia Bertaruh Amerika Serikat Akan Tinggalkan Ukraina Kredit Foto: Reuters/Anton Vaganov
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Rusia diyakini tengah bertaruh bahwa pihaknya akan semakin diuntungkan dalam perangnya melawan Ukraina. Terbaru, Amerika Serikat diyakini akan meninggalkan aliansi yang membantu pihak dari Kiev.

        Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskiy menilai bahwa musuhnya bertaruh bahwa pihaknya akan kehilangan dukungan dari Amerika Serikat. Hal ini menyusul perundingan damai terus mengalami kebuntuan antara Kiev dan Moskow.

        Baca Juga: Amerika Serikat Tuntut Ukraina Serahkan Donbas ke Rusia: Demi Jaminan Keamanan

        Zelenskiy mengakui bahwa skenario tersebut memang memiliki risiko, terutama di tengah meningkatnya fokus dari pendukungan terhadap konflik di Timur Tengah. Konflik tersebut menurutnya juga telah mempengaruhi langkah dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.

        “Trump, menurut saya, masih memilih strategi memberikan tekanan lebih besar kepada Ukraina,” ujarnya, dikutip dari Reuters.

        Konflik Iran dan Amerika Serikat diketahui juga telah membuat mandek perundingan dari Rusia dan Ukraina. Putaran keempat perundingan yang dijadwalkan bulan ini diketahui terpaksa ditunda akibat eskalasi konflik dari Teheran dan Washington.

        Sebelumnya, Zelenskiy juga mengatakan bahwa pihaknya mendapatkan laporkan bahwa terdapat upaya pemerasan dari Rusia ke Amerika Serikat. Moskow menurutnya tengah menawarkan kesepakatan penghentian berbagi intelijen ke Iran. Sebaliknya, Amerika Serikat diminta untuk menghentikan pemberian dukungan intelijen Washington ke Ukraina.

        Adapun Zelenskiy menyatakan bahwa ia tidak mempermasalahkan hubungan personal dengan Trump. Menurutnya, ketegangan masa lalu antara dirinya dengan sang presiden tak akan mempengaruhi keputusan dari Washington.

        “Saya bukan barang untuk disukai atau tidak disukai. Trump melihat ini secara pragmatis dan ingin perang segera berakhir. Kami juga menginginkan hal yang sama,” katanya.

        Zelenskiy juga menyampaikan apresiasi kepada Amerika Serikat. Hal ini atas sikap mereka yang tetap melanjutkan pengiriman sistem pertahanan udara dari Patriot. Sistem ini menjadi krusial bagi Ukraina karena mampu mencegat rudal balistik dari Rusia.

        Konflik Rusia-Ukraina sendiri jauh dari kata damai. Terbaru, Rusia disebut-sebut tengah mengincar wilayah dari Donbas. Bahkan penyerahan wilayah tersebut menjadi kunci adanya jaminan keamanan bagi Ukraina dari Amerika Serikat.

        Wilayah Donbas sendiri merupakan salah satu target utama perang bagi Rusia. Presiden Rusia, Vladimir Putin telah lama menegaskan bahwa penguasaan penuh atas kawasan tersebut adalah tujuan strategis dari Moskow. Namun, kemajuan militer negara tersebut dalam wilayah tersebut berjalan lambat dalam dua tahun terakhir menyusul pembangunan pertahanan kuat oleh Ukraina.

        Diketahui, Ukraina tengah berupaya menahan ofensif musim semi terbaru dari Rusia. Hal ini menyusul mandeknya perundingan damai yang didukung Amerika Serikat. Kiev diketahui akan memanfaatkan keberhasilan taktis terbaru serta inovasi dalam medan perang seperti serangan jarak menengah.

        Fokus dari kampanye yang telah lama diantisipasi ini adalah apa yang disebut sebagai “Sabuk Benteng” (Fortress Belt). Ia merupakan rangkaian kota yang dipertahankan secara ketat di Timur Donetsk, Ukraina.

        Baca Juga: Trump Klaim Iran Ingin Damai: Mereka Takut Dibunuh Rakyatnya dan Amerika Serikat

        Rusia dalam sepekan terakhir sudah melancarkan serangan berskala batalion di Timur Sloviansk, Pokrovsk dan Kostiantynivka. Hal itu dilakukan dengan tujuan menciptakan kondisi bagi ofensif yang lebih luas.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Aldi Ginastiar

        Bagikan Artikel: