Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Perusahaan dan Taipan Besar Investasi Jor-Joran di AI Ciptakan Bubble yang Bisa Picu Krisis Global

        Perusahaan dan Taipan Besar Investasi Jor-Joran di AI Ciptakan Bubble yang Bisa Picu Krisis Global Kredit Foto: F5
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Direktur Policy Research In Macroeconomics (PRIME) Ann Pettifor memperingatkan bahwa lonjakan investasi pada teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) berpotensi menciptakan bubble atau gelembung spekulasi yang dapat memicu krisis ekonomi global berikutnya.

        Pettifor, yang dikenal sebagai salah satu ekonom yang berhasil memprediksi krisis keuangan global pada 2008, menilai tren investasi AI saat ini memiliki kemiripan dengan gelembung ekonomi sebelumnya, seperti gelembung dot-com pada awal 2000-an dan krisis perumahan 2008.

        Ia menggambarkan sistem keuangan global saat ini sebagai "kasino global", di mana investor besar dan lembaga keuangan mempertaruhkan dana dalam jumlah besar ke perusahaan-perusahaan AI dengan harapan memperoleh keuntungan cepat dan besar.

        Menurut Pettifor, aliran dana yang masuk ke sektor AI saat ini jauh lebih besar dibandingkan potensi keuntungan nyata yang dapat dihasilkan teknologi tersebut dalam waktu dekat.

        "Hal ini membuat investasi AI berisiko menjadi spekulasi yang didorong ekspektasi berlebihan," katanya.

        Selain itu, Pettifor juga mengingatkan adanya pola keuntungan yang akan dinikmati oleh segelintir investor besar dan perusahaan teknologi, sementara risiko kerugian ditanggung masyarakat luas.

        Ia menjelaskan bahwa dana investasi yang mengalir ke sektor AI tidak hanya berasal dari investor besar, tetapi juga dari dana publik seperti dana pensiun yang dikelola melalui sistem keuangan kompleks, termasuk perbankan bayangan (shadow banking).

        "Jika gelembung investasi AI pecah, Pettifor memperingatkan bahwa dampaknya dapat meluas ke sektor ekonomi riil. Investor besar mungkin tetap terlindungi, namun kerugian dapat dirasakan oleh masyarakat luas melalui pelemahan ekonomi, penurunan investasi, dan potensi krisis likuiditas," tambahnya.

        Pettifor menekankan bahwa masalah utama bukan pada teknologi AI itu sendiri, melainkan pada cara sistem keuangan global membiayai dan menginvestasikan teknologi tersebut. Spekulasi berlebihan tanpa dasar keuntungan yang jelas berpotensi menciptakan risiko sistemik bagi perekonomian global.

        Ia pun mengingatkan agar publik tidak hanya terpukau oleh perkembangan teknologi AI, tetapi juga mewaspadai euforia investasi yang berlebihan di baliknya. Menurutnya, tanpa pengawasan dan regulasi yang tepat, lonjakan investasi AI berpotensi menjadi sumber krisis ekonomi besar berikutnya.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Ferry Hidayat

        Bagikan Artikel: