Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Trump Membahas Spidol Seharga Rp15 Juta di Saat Rapat Kabinet

        Trump Membahas Spidol Seharga Rp15 Juta di Saat Rapat Kabinet Kredit Foto: Reuters
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump sampai harus menyela rapat Kabinet yang tengah membahas isu-isu genting seperti perang Iran dan lonjakan harga, hanya untuk membicarakan spidol favoritnya, merek Sharpie.

        AP melaporkan, Trump tiba-tiba menginterupsi jalannya rapat tersebut hanya untuk memamerkan sebuah spidol Sharpie khusus berwarna hitam dan emas, lalu menceritakan panjang lebar bagaimana spidol pilihannya itu bisa menjadi alat tulis wajib di Gedung Putih.

        "Lihat pena ini?” kata Trump mengawali penjelasannya soal Sharpie yang berlangsung sekitar lima menit.

        "Pena ini adalah contoh yang menarik," tambahnya.

        Momen tersebut menjadi satu dari sekian banyak interupsi panjang yang dilakukan Trump selama rapat. Interupsi ini terasa cukup janggal, mengingat banyaknya isu lebih penting yang seharusnya menjadi fokus pembahasan.

        Monolog tentang Sharpie ini muncul tepat setelah Menteri Pertahanan Pete Hegseth, Utusan Khusus Steve Witkoff, Wakil Presiden JD Vance, dan Menteri Luar Negeri Marco Rubio menyampaikan laporan serius terkait serangan rudal, upaya pengayaan uranium Teheran, serta risiko keamanan yang dihadapi pasukan AS.

        Trump beralasan, cerita panjang tersebut adalah contoh bagaimana insting bisnisnya dapat menghasilkan penghematan dalam anggaran belanja pemerintah federal.

        Lewat cerita itu, ia juga sembari mengritik biaya renovasi gedung Federal Reserve di Washington yang ia anggap terlalu mahal.

        "Kita harus meluruskan prioritas kita," tegas Trump.

        Sejuruh kemudian, Trump menceritakan bahwa Gedung Putih dulunya selalu menyediakan pena bolpoin mewah yang harganya mencapai 1.000 dolar AS (sekitar Rp15 juta) per buah.

        Menurut Trump, inefesiensi terjadi ketika dalam acara seremonial penandatanganan undang-undang, ia kerap membagikan pena tersebut sebagai cendera mata kepada anggota parlemen, pendukung, dan berbagai pihak yang terlibat dalam penyusunan beleid baru.

        Penerimanya bahkan kerap kali adalah anak-anak yang, menurutnya, tidak memahami nilai dari barang mahal yang mereka terima.

        "Terkadang tamu yang hadir bisa mencapai 30 hingga 40 orang," ujar Trump.

        Meskipun dikenal menyukai gaya hidup dan fasilitas mewah, Trump mengaku merasa tidak nyaman jika harus membagikan pena mahal dalam jumlah banyak.

        "Saya ingin menghemat uang," kata Trump.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Ferry Hidayat

        Bagikan Artikel: