Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Tertekan Harga Batu Bara, Pendapatan ABM Investama (ABMM) Turun 13,5%

        Tertekan Harga Batu Bara, Pendapatan ABM Investama (ABMM) Turun 13,5% Kredit Foto: ABM Investama
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        PT ABM Investama Tbk (ABMM) mencatat pendapatan sebesar USD1,04 miliar sepanjang 2025, turun 13,5% YoY, terutama akibat melemahnya harga batu bara serta tantangan operasional dari faktor eksternal. Adapun EBITDA tercatat USD339,3 juta dan laba bersih mencapai USD70,6 juta.

        Dari sisi operasional, aktivitas pertambangan mengalami penurunan. Volume pengupasan lapisan penutup (overburden removal) turun 12,9% YoY menjadi 235,4 juta bcm, sementara volume pengambilan batu bara (coal getting) terkoreksi 12,4% YoY menjadi 34,5 juta ton. Di sisi lain, lini perdagangan bahan bakar mencatat volume penjualan sebesar 357,4 juta liter sepanjang tahun.

        Bisnis logistik mencatat tingkat ketepatan waktu pengiriman (on-time delivery rate) sebesar 94,5%, sedangkan bisnis jasa dan fabrikasi berhasil meningkatkan ketepatan pengiriman menyeluruh (on-time-in-full) menjadi 83,8%.

        “Kinerja Perseroan pada tahun ini mencerminkan hasil dari pelaksanaan strategi yang kami jalankan secara konsisten di seluruh unit usaha," kata Hans Manoe, Direktur PT ABM Investama Tbk.

        "Dengan berfokus pada keunggulan operasional serta pengelolaan keuangan yang disiplin, kami telah memperkuat fundamental Perseroan dan menjaga daya saing serta kinerja di tengah persaingan industri melalui optimalisasi aset operasional dan pengelolaan investasi strategis secara efektif guna mendukung pertumbuhan jangka panjang," lanjutnya. 

        Memasuki 2026, ABMM mulai mengakselerasi ekspansi operasional. Salah satunya melalui pengembangan tambang batu bara di Provinsi Aceh yang telah mencatatkan penjualan perdana pada Februari 2026. Tambang ini ditargetkan segera mencapai produksi bulanan yang stabil guna menopang kinerja sepanjang tahun.

        Selain itu, aset tambang baru di Kalimantan Tengah saat ini tengah dalam proses penyelesaian perizinan, dengan target mulai beroperasi secara komersial (COD) pada kuartal III 2026. Dalam seluruh aktivitasnya, Perseroan tetap berkomitmen menerapkan prinsip Good Mining Practices di setiap lokasi operasional.

        Baca Juga: Terbang 7.697%, Laba Emiten Grup Bakrie (DEWA) Tembus Rp4,3 Triliun di 2025!

        Ke depan, ABMM juga akan memperkuat diversifikasi dengan mendorong pertumbuhan pendapatan non-batu bara, khususnya dari segmen logistik dan fabrikasi.

        Strategi ini akan dilakukan melalui ekspansi non-organik pada bisnis yang berdekatan, guna menciptakan sinergi dalam ekosistem usaha sekaligus memperkokoh posisi Perseroan sebagai pemain rantai nilai pertambangan yang terkemuka di Indonesia.

        "Perseroan senantiasa waspada terhadap perubahan lingkungan eksternal dan berbagai tantangan yang berpotensi memengaruhi penciptaan nilai bagi seluruh pemangku kepentingan," pungkas Hans. 

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Belinda Safitri
        Editor: Belinda Safitri

        Bagikan Artikel: