Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Perang Iran Uji Suksesi Trump, Nama Vance vs Rubio Menguat Jelang Pilpres 2028

        Perang Iran Uji Suksesi Trump, Nama Vance vs Rubio Menguat Jelang Pilpres 2028 Kredit Foto: Istimewa
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Perang Iran yang memasuki pekan kelima mulai memengaruhi peta politik Amerika Serikat, dengan Wakil Presiden JD Vance dan Menteri Luar Negeri Marco Rubio menguat sebagai kandidat potensial penerus Presiden Donald Trump pada pemilihan 2028.

        Mengutip Reuters, keduanya kini terlibat langsung dalam upaya diplomasi untuk mengakhiri konflik Iran, di tengah meningkatnya tekanan politik domestik terhadap pemerintahan Trump akibat perang dan lonjakan harga energi.

        Trump disebut telah melibatkan Vance dan Rubio dalam upaya mendorong Iran menerima tuntutan Amerika Serikat, termasuk pembongkaran program nuklir dan rudal balistik serta pembukaan kembali jalur minyak di Selat Hormuz.

        Di sisi lain, pendekatan kedua tokoh tersebut berbeda. Vance mengambil sikap lebih hati-hati dengan menekankan risiko keterlibatan militer jangka panjang, sementara Rubio tampil lebih agresif dan menjadi salah satu pendukung utama kebijakan keras pemerintahan terhadap Iran.

        Perbedaan pendekatan ini terjadi di tengah dinamika internal Partai Republik yang mulai mengkaji arah kepemimpinan pasca-Trump. Sejumlah sumber menyebut Trump secara internal bahkan telah mempertanyakan kandidat penerus dengan pilihan “JD atau Marco”.

        Hasil konflik Iran dinilai akan sangat menentukan peluang politik keduanya. Analis menyebut, jika perang berakhir cepat dan menguntungkan Amerika Serikat, posisi Rubio berpotensi menguat sebagai figur yang dianggap mampu menangani krisis. Sebaliknya, jika konflik berkepanjangan, Vance berpeluang menarik dukungan basis pemilih yang menolak perang.

        Tekanan terhadap Trump juga meningkat. Survei Reuters/Ipsos menunjukkan tingkat persetujuan publik terhadap Trump turun menjadi 36%, terendah sejak kembali menjabat, dipicu oleh kenaikan harga bahan bakar dan penolakan terhadap perang Iran.

        Di internal Partai Republik, dinamika dukungan terhadap dua kandidat tersebut juga mulai terlihat. Dalam jajak pendapat Conservative Political Action Conference (CPAC), Vance memperoleh dukungan sebesar 53% dari lebih 1.600 responden, sementara Rubio berada di posisi kedua dengan 35%, naik signifikan dari 3% pada tahun sebelumnya.

        Namun, hubungan keduanya tetap dinamis. Rubio disebut tidak akan maju jika Vance mencalonkan diri, dan terbuka untuk menjadi pasangan wakil presiden. Meski demikian, sejumlah analis menilai peluang Rubio tetap terbuka jika terjadi perubahan dukungan politik.

        Seorang strateg Partai Republik menyebut bahwa loyalitas terhadap Trump akan menjadi faktor penentu. “Trump memiliki ingatan panjang. Jika ada yang dianggap kurang loyal, itu bisa berdampak pada dukungan,” ujarnya.

        Baca Juga: Wapres AS Vance Disebut Jadi Kunci Washington Akhiri Konflik Iran

        Baca Juga: Dinamika di Kongres atas Sikap Trump yang Maunya Perang Terus

        Baca Juga: Optimistis Akhiri Perang Iran, Trump Dihadapkan Negosiasi Buntu

        Sementara itu, Gedung Putih membantah adanya sinyal preferensi terhadap salah satu kandidat. Pemerintah menegaskan fokus utama tetap pada penyelesaian konflik dan kepentingan nasional.

        Survei Reuters/Ipsos juga menunjukkan 79% pemilih Partai Republik memiliki pandangan positif terhadap Vance, sementara 71% memberikan penilaian positif kepada Rubio. Angka ini menunjukkan keduanya memiliki basis dukungan yang kuat menjelang kontestasi politik mendatang.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Annisa Nurfitri

        Bagikan Artikel: