Nilai Tukar Rupiah Ditutup Melemah ke Rp17.839, Inflasi dan Sentimen Global Jadi Sorotan
Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah pada perdagangan Selasa (2/6/2026). Mata uang Garuda terkoreksi 34 poin ke level Rp17.839 dari penutupan sebelumnya di Rp17.805.
Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan pergerakan rupiah hari ini dipicu oleh data Badan pusat Statistik (BPS) di mana perekonomian Indonesia mengalami inflasi sebesar 3,08% secara tahunan (year-on-year/yoy) pada Mei 2026.
Indeks Harga Konsumen (IHK) mengalami kenaikan dari 111,09 pada April 2026 menjadi 111,40 pada Mei 2026. Adapun secara tahun kalender (year-to-date/ytd) inflasi tercatat sebesar 1,35% dan secara bulanan (month-to-month/mtm) sebesar 0,28%.
Selain itu, aktivitas manufaktur Indonesia kembali masuk ke zona ekspansi. Berdasarkan laporan S&P Global, Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia naik ke level 50,0 pada Mei 2026, setelah terkontraksi ke 49,1 pada April 2026.
"Kendati menunjukkan sinyal positif, sektor industri masih dibayangi tekanan biaya bahan baku yang melonjak dan gangguan pasokan yang menahan laju produksi," kata dia dalam analisanya kepada wartawan.
Ibrahim menuturkan, berdasarkan laporan S&P Global, posisi PMI pada Mei mengindikasikan kondisi operasional manufaktur yang stabil setelah sempat mengalami kontraksi pada bulan sebelumnya.
Perbaikan terutama ditopang oleh peningkatan permintaan domestik yang mendorong kenaikan pesanan baru selama 2 bulan berturut-turut. Kenaikan pesanan baru pada Mei menjadi yang tercepat sejak Februari.
Baca Juga: Rupiah Nyaris Sentuh Rp18.000 per Dolar AS, Terlemah di Asia
Baca Juga: Pengamat: Pelemahan Rupiah Jadi Sorotan, Ruang Digital Bentuk Persepsi Publik
Sementara dari sisi ekternal, rupiah dipengaruhi oleh dinamika konflik Global. Presiden AS, Donald Trump, mengatakan pada hari Senin bahwa pembicaraan dengan Iran masih berlangsung, sementara kantor berita Tasnim sebelumnya melaporkan bahwa Teheran telah menangguhkan negosiasi tidak langsung dengan Washington.
"Dalam sebuah wawancara dengan CNBC pada hari Senin, Trump mengatakan dia tidak keberatan jika pembicaraan berakhir," kata dia.
Tetapi tak lama kemudian, ia justru mengeluarkan unggahan di media sosial yang mengatakan bahwa pembicaraan dengan Iran terus berlanjut dan mengatakan kepada ABC News bahwa ia mengharapkan kesepakatan untuk memperpanjang gencatan senjata dan membuka kembali Selat Hormuz dalam minggu depan.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Cita Auliana
Editor: Dwi Aditya Putra
Tag Terkait: