Walau Izinkan Tanker Rusia, Amerika Serikat Bantah Longgarkan Sanksi Kuba
Kredit Foto: Istimewa
Amerika Serikat membantah bahwa pihaknya melonggarkan kebijakan sanksi terhadap Kuba. Hal ini terjadi menyusul bagaimana sebuah kapal tanker minyak baru-baru ini diizinkan mereka untuk masuk ke Havana.
Juru Bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt menegaskan tidak ada perubahan kebijakan terhadap Kuba. Ia menyebut keputusan pengizinan baru-baru ini diambil murni atas dasar kemanusiaan dan akan diputuskan secara kasus per kasus.
Baca Juga: Iran dan Sekutu Isyaratkan 'Kejutan' Baru untuk Israel dan Amerika Serikat
"Ini bukan perubahan kebijakan. Tidak ada perubahan formal dalam kebijakan sanksi. Kami mengizinkan kapal ini mencapai mereka untuk menyediakan kebutuhan kemanusiaan bagi rakyat Kuba," kata Leavitt.
Gedung Putih menegaskan bahwa langkah tersebut bukan pelonggaran resmi terhadap sanksi. Amerika Serikat menurutnya tetap memiliki hak untuk menyita kapal yang melanggar kebijakan sanksi, tergantung pada aspek hukum yang berlaku.
"Kami masih berhak untuk menyita kapal, jika secara hukum diperbolehkan, yang menuju mereka dan melanggar kebijakan sanksi dari AS," tegas Leavitt.
Namun, dalam kasus ini, pemerintah mengizinkan pengiriman minyak karena kondisi darurat yang dihadapi Kuba. Kuba saat ini tengah mengalami krisis energi serius, ditandai dengan pemadaman listrik massal dan gangguan layanan publik termasuk kesehatan.
Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump menyatakan dirinya tidak keberatan jika negara lain mengirim minyak ke Kuba. Hal ini menjadi perhatian menyusul pernyataannya yang datang bersamaan dengan sebuah kapal tanker minyak datang dari Rusia ke Kuba.
Baru-baru ini sebuah kapal tanker datang mendekati pelabuhan dari Havana. Tanker tersebut diketahui membawa sekitar 650.000–730.000 barel minyak dan diperkirakan dapat menjadi penyelamat sementara bagi kebutuhan energi dari negara tersebut. Adapun kapal tanker itu rupanya berasal dari Rusia.
Adapun Trump diketahui menerapkan blokade de facto terhadap pasokan minyak menuju negara tersebut, termasuk menghentikan pengiriman dari Venezuela. Ia juga menekan negara lain agar tidak memasok energi terhadap wilayah tersebut dengan mengancam akan menerapkan tarif tinggi.
Presiden Kuba, Miguel Díaz-Canel, mengakui bahwa negaranya tengah menjalin komunikasi dengan Amerika Serikat. Hal tersebut dilakukan untuk menghindari potensi konfrontasi lebih lanjut.
Baca Juga: Amerika Serikat dan Sekutu Kembali Tekan Ukraina, Minta Kurangi Serangan ke Minyak Rusia
Kuba sendiri telah menyatakan siap menghadapi kemungkinan konflik militer dengan Amerika Serikat. Hal ini menyusul ancaman bahwa pulai tersebut akan mendapatkan friendly takeover dari Trump.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Aldi Ginastiar
Tag Terkait: