Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Harga Tepung Beras Melonjak akibat Bahan Baku Mahal, UMKM Tertekan

        Harga Tepung Beras Melonjak akibat Bahan Baku Mahal, UMKM Tertekan Kredit Foto: Istimewa
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Tingginya harga beras pecah lokal memicu kenaikan harga tepung beras, hingga berimbas pada para pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) seperti industri kue rumahan dan kue tradisional. Sejumlah pelaku usaha akhirnya terpaksa menaikkan harga, mengecilkan ukuran kue, bahkan sampai harus berhenti berproduksi. 

        Selama ini kebutuhan bahan baku tepung beras industri dipenuhi dari beras pecah impor karena harganya relatif lebih murah. Namun karena adanya kebijakan penghentian impor beras untuk kebutuhan konsumsi maupun industri, produsen tepung beras kini terpasa beralih menggunakan beras pecah lokal yang harganya lebih tinggi.

        Menurut pelaku usaha penggilingan padi, harga beras pecah lokal saat ini berada di kisaran Rp10.000–Rp11.000 per kg. Harga tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan harga beras pecah impor yang tercatat dalam data perdagangan internasional. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) sektor ekspor-impor, harga beras pecah impor per Desember 2025, berada pada kisaran 0,341–0,365 USD atau setara Rp5.737–Rp6.141 per kg. 

        Riyanto Jokonur, pemilik penggilingan padi UD Sekar Putri di Klaten, Jawa Tengah, mengatakan bahwa ia menjual beras pecah broken 1 dengan harga Rp11.000 per kg. “Broken satu kualitasnya paling bagus dari beras premium. Beras ini kita stok dan dijual ke pabrik-pabrik tepung,” katanya.

        Sedangkan Midi Iswanto, pemilik penggilingan di Lampung Selatan, mengungkapkan bahwa beras pecah di wilayah Lampung umumnya dijual dengan harga di bawah Rp11.000 per kg. “Rata-rata di Lampung Selatan dijual di kisaran harga Rp10.000 per kg. Beras patahan ini tidak diproduksi secara khusus, melainkan hasil samping proses penggilingan padi, dengan persentase kurang dari 10 persen dari total produksi,” papar Midi.

        Perbedaan harga beras pecah lokal yang lebih tinggi dibanding beras pecah impor berpotensi memengaruhi biaya produksi industri tepung beras. Terutama apabila pihak industri harus sepenuhnya menggunakan beras pecah lokal yang berdampak pada kenaikan harga tepung beras di pasaran.

        Jumiati, pemilik usaha kue “Berkah Snack” di Kliwonan, Sugihan, Tengaran, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, memaparkan bahwa harga tepung beras kemasan yang biasa ia gunakan mengalami kenaikan cukup signifikan. Harga per karton isi 20 bungkus kemasan 500 gram saat ini mencapai Rp 158.500 atau Rp 15.850 per kg, dari semula Rp14.000 per kg.

        Kenaikan ini terasa memberatkan karena tepung beras merupakan bahan baku utama berbagai produk camilan keripik yang ia produksi, seperti keripik tempe, keripik pare dan keripik bayam dengan kebutuhan mencapai sekitar dua kuintal per hari. 

        “Tepung beras naik sejak akhir Januari 2025. Kami terpaksa menaikkan harga jual keripik sebesar Rp 2.000 per bal,” ujar Jumiati.

        Ia mematok harga Rp90.000 per bal untuk keripik bayam (berat 2,5 kg), dan Rp75.000 per bal untuk keripik tempe dan keripik pare (berat 1,75 kg). Produk Berkah Snack dipasarkan ke sejumlah daerah di Jawa Tengah, seperti Solo, Semarang, Ungaran, dan Boyolali, dengan pendapatan rata-rata Rp20 juta per minggu dengan mempekerjakan 12 karyawan.

        “Semoga harga tepung beras kembali normal. Karena berat buat kami sebagai UMKM,” tambahnya.

        Kondisi serupa dialami Wenny (39) dan Diki (51), pelaku UMKM di Kampung Kue Pekantingan, Cirebon, Jawa Barat, yang memproduksi kue tradisional seperti talam dan lapis.

        “Harga tepung beras naik terus, sekarang Rp7.900 per bungkus (ukuran 500 gram). Tentu berat buat kami, apalagi harga bahan baku lain seperti gula pasir juga ikut naik,” kata Wenny.

        Wenny memilih tidak menaikkan harga jual, tapi mengecilkan ukuran kue yang dibandrol seharga Rp1.600 per potong. Upaya lain yang ia lakukan adalah fokus pada pembuatan kue yang tidak menggunakan tepung beras, seperti botok roti.  “Mau naikin harga susah, pasti dikomplain konsumen. Jadi ukuran kuenya agak dikecilin,” ujarnya.

        Hal serupa disampaikan Diki, pembuat aneka kue lapis, talam, cikak, dodol, hingga cilok yang dipasarkan ke Pasar Arjawinangun, Tegal Gubug, Kertasemaya, Jatibarang, hingga Indramayu, Jawa Barat. 

        “Harga tepung beras naiknya nggak kira-kira, sekarang Rp 154.000 per karton atau Rp 15.400 per kg. Terpaksa ukuran kuenya dikecilin,” papar Diki.

        Diki yang sudah berjualan selama puluhan tahun ini mengaku sedih. Pasalnya, di bulan ramadan yang biasanya permintaan dari konsumen cukup tinggi, tapi kini malah sebaliknya. “Saya sampai tidak produksi karena sepi orderan. Kalau harga tepung beras terus naik bagaimana dengan keberlangsungan usaha kami,” ungkap Diki.

        Kenaikan harga tepung beras menjadi tantangan bagi keberlangsungan UMKM kuliner yang sangat bergantung pada stabilitas harga bahan baku. Para pelaku usaha berharap adanya solusi yang mampu menjaga keseimbangan antara kebijakan pengelolaan beras nasional dan keberlanjutan usaha kecil. Mereka hanya berharap agar UMKM tetap dapat berproduksi, menjaga kualitas dan daya saing produknya di pasaran. 

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Sufri Yuliardi

        Bagikan Artikel: