Rusia Kecam Serangan UNIFIL, Prajurit Indonesia Gugur Saat Salat di Lebanon Selatan
Kredit Foto: Pendam IM
Serangan terhadap pasukan penjaga perdamaian PBB kembali memicu perhatian internasional di tengah konflik yang terus memanas di Lebanon Selatan. Di saat yang sama, satu prajurit TNI gugur ketika sedang menjalankan ibadah di lokasi penugasan.
Pernyataan keras datang dari Vassily Nebenzia yang mengecam serangan terhadap pasukan United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL). Rusia juga menunggu laporan resmi dari Sekretariat PBB terkait pihak yang bertanggung jawab atas insiden tersebut.
"Rusia mengutuk keras semua serangan terhadap kontingen UNIFIL, tanpa memandang siapa pelakunya," kata Nebenzia dalam pertemuan Dewan Keamanan PBB.
Ia menegaskan bahwa perlindungan pasukan penjaga perdamaian harus menjadi prioritas dalam situasi konflik.
Ia menambahkan bahwa Moskow berharap segera memperoleh informasi lengkap terkait insiden tersebut. Data yang ditunggu mencakup kronologi kejadian hingga identitas pihak yang bertanggung jawab.
Selain itu, Rusia juga menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban. Harapan pemulihan juga disampaikan bagi personel yang mengalami luka dalam serangan tersebut.
Sebelumnya, UNIFIL melaporkan seorang pasukan penjaga perdamaian asal Indonesia tewas pada 29 Maret. Insiden tersebut terjadi setelah sebuah proyektil menghantam salah satu posisi pasukan.
Sehari setelahnya, dua personel penjaga perdamaian lainnya dilaporkan tewas akibat serangan terhadap kendaraan patroli di wilayah Bani Haiyyan. Rangkaian kejadian ini memperlihatkan meningkatnya risiko terhadap pasukan internasional di kawasan tersebut.
Eskalasi konflik di Lebanon Selatan terus meningkat sejak awal Maret. Ketegangan dipicu oleh serangan roket Hizbullah ke wilayah Israel yang kemudian dibalas dengan operasi militer skala besar.
Serangan tersebut mencakup wilayah selatan Lebanon, Lembah Beqaa, hingga pinggiran Beirut. Pada 16 Maret, militer Israel juga mengumumkan dimulainya operasi darat di kawasan tersebut.
Di tengah situasi itu, seorang prajurit TNI, Praka Farizal Romadhon, gugur saat menjalankan ibadah salat Isya. Peristiwa tersebut terjadi di area penugasan misi perdamaian PBB di Lebanon Selatan.
Insiden berlangsung pada Minggu (29/3/2026) sekitar pukul 20.44 waktu setempat di Kota Adshit Al-Qusyar. Saat itu, almarhum berada di fasilitas ibadah di sekitar pos kontingen Indonesia.
Serangan artileri dilaporkan jatuh di dekat lokasi tersebut dan menghantam area sekitar tempat ibadah. Dalam situasi tersebut, almarhum tidak sempat menyelamatkan diri dan dinyatakan gugur di lokasi kejadian.
"Pada saat Praka Farizal sedang melaksanakan salat Isya, ada artileri yang jatuh di samping masjid," ujar Komandan Brigade Infanteri 25/Siwah Kolonel Infanteri Dimar Bahtera.
Praka Farizal merupakan anggota Batalyon Infanteri 113/Jaya Sakti yang tergabung dalam Satgas Yonmek TNI Kontingen Garuda XXIII-S. Ia telah menjalankan tugas dalam misi UNIFIL sejak April 2025.
Selama bertugas, almarhum dikenal sebagai prajurit yang disiplin dan memiliki dedikasi tinggi. Rekan dan atasan mengenalnya sebagai sosok yang taat beribadah dan memiliki loyalitas tinggi.
“Semasa dinas almarhum dikenal sangat rajin beribadah. Orangnya ramah, loyalitas sangat tinggi kepada atasan,” kata Kepala Penerangan Kodam Iskandar Muda Kolonel Inf T Mustafa Kamal. Pernyataan ini menggambarkan karakter almarhum selama berdinas.
Ia diketahui hampir menyelesaikan masa tugasnya di Lebanon. Jadwal kepulangannya ke Indonesia direncanakan pada Mei 2026.
Namun tugas tersebut berakhir lebih cepat akibat insiden serangan yang terjadi. Peristiwa ini juga menambah daftar korban dalam konflik yang terus berlangsung.
Selain Praka Farizal, tiga prajurit TNI lainnya turut menjadi korban dalam serangan tersebut. Praka Rico Pramudia mengalami luka berat, sementara dua lainnya mengalami luka ringan dan menjalani perawatan.
Seluruh korban telah mendapatkan penanganan sesuai prosedur, termasuk evakuasi medis bagi yang mengalami luka berat. Proses perawatan dilakukan di fasilitas kesehatan yang tersedia di wilayah tersebut.
Baca Juga: Mengapa AS Biarkan Kapal Rusia Pasok Minyak ke Kuba?
Saat ini, jenazah Praka Farizal disemayamkan di markas sektor timur UNIFIL. Proses administrasi pemulangan ke Indonesia sedang dilakukan dengan bantuan Kedutaan Besar Republik Indonesia di Beirut.
Hingga kini, penyebab pasti serangan masih dalam proses investigasi oleh UNIFIL. Penyelidikan dilakukan untuk memastikan pelaku serta latar belakang insiden tersebut.
Kepergian Praka Farizal meninggalkan seorang istri dan satu anak yang masih berusia dua tahun. Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa misi perdamaian tetap memiliki risiko tinggi di tengah konflik bersenjata.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Wahyu Pratama
Editor: Amry Nur Hidayat
Tag Terkait: