Kredit Foto: Istimewa
Perang Iran akan memasuki akhir minggu ke-5 pada akhir minggu ini. Awalnya, pada saat perang dimulai, Presiden Trump menetapkan batas akhir berlangsungnya konflik tersebut. Entah kebetulan atau tidak, hari Jumat ini merupakan Jumat Agung, yang menjadi hari libur nasional di banyak negara, termasuk Amerika Serikat. Pada hari itu, tidak ada perdagangan saham, migas, obligasi, maupun transaksi pasar keuangan lainnya, kecuali di pasar kripto.
Berdasarkan pengalaman selama sebulan terakhir maupun pola pengambilan keputusan Trump sebelumnya yang selalu mempertimbangkan gejolak pasar keuangan, tampaknya akan ada keputusan besar dan strategis pada saat itu. Trump memiliki waktu tiga hari penuh untuk mengambil keputusan besar tersebut tanpa harus khawatir akan dampaknya terhadap pasar keuangan.
Sejak awal minggu ini, Trump seperti biasa menyampaikan berbagai pernyataan dan indikasi yang saling bertolak belakang. Dimulai dengan pernyataannya bahwa perang akan segera berakhir karena perundingan dengan Iran berlangsung dengan baik. Di sisi lain, ia mengancam bahwa jika Iran tidak membuka kembali Selat Hormuz, maka Amerika Serikat akan menghancurkan infrastruktur listrik, energi, bahkan fasilitas desalinasi air Iran. Dalam perkembangan terbaru, Trump mengindikasikan kesiapannya untuk mengakhiri perang Iran, bahkan dengan membiarkan Selat Hormuz tetap dikuasai Iran, dan menyerahkan penyelesaiannya kepada negara-negara lain yang pasokan minyaknya bergantung pada jalur laut tersebut.
Pernyataan-pernyataan Trump yang semakin mengarah pada kemungkinan pengakhiran segera perang telah memunculkan sentimen positif di pasar keuangan. Hal ini mendorong kenaikan indeks saham Wall Street secara terbatas, penurunan harga futures minyak bumi untuk dua hingga tiga bulan ke depan ke sekitar atau di bawah 100 dolar AS, serta penurunan tipis imbal hasil obligasi Pemerintah AS di pasar. Pada gilirannya, meskipun terbatas, membaiknya berbagai indikator pasar keuangan ini memberikan ruang tambahan bagi Trump untuk mengambil keputusan besar pada akhir minggu ini.
Tiga Opsi dan Risikonya
Banyak pihak dan analis berpendapat bahwa pernyataan Trump yang kerap berubah dan saling bertolak belakang tersebut menunjukkan sikapnya yang tidak konsisten dan tidak dapat dipercaya. Namun, pengalaman juga menunjukkan bahwa berbagai pernyataan itu menggambarkan opsi-opsi yang sedang dipertimbangkannya untuk mencapai tujuan dalam menghadapi permasalahan yang sangat kompleks. Pada akhirnya, keputusan final yang diambilnya tidak akan jauh berbeda dengan opsi-opsi tersebut. Satu faktor penting yang berada di luar kendali Trump adalah keterbatasan waktu yang dihadapinya. Dalam hal Perang Iran, faktor tersebut adalah ketidakpopuleran perang di mata publik AS dan Pemilu Legislatif AS bulan November yang akan segera memasuki masa kampanye.
Berhadapan dengan kondisi dan realitas tersebut, tiga opsi menjadi pilihannya: mendorong jalur perundingan, menghancurkan berbagai infrastruktur vital Iran, atau menghentikan perang dengan membiarkan Selat Hormuz dikuasai Iran. Pertanyaan besarnya adalah, putusan mana yang akan diambilnya pada akhir minggu ini, dan apa risiko dari masing-masing putusan tersebut?
Opsi Satu: Trump yang mendorong jalur perundingan tampaknya menemui jalan buntu karena Iran sama sekali tidak ingin melakukan hal itu. Setidaknya ada dua alasan Iran tidak ingin berunding langsung, bahkan mungkin juga tidak melalui mediator dengan AS. Pertama, Iran tidak dapat mempercayai Trump lagi karena sudah dua kali dikelabui, yaitu dibom justru saat sedang melangsungkan perundingan dengan AS. Kedua, Iran saat ini merasa sedang di atas angin dan yakin dapat “memenangkan” perang ini. Tentu ukuran kemenangan itu bukan secara militer, karena dalam perang asimetris ini Iran terlihat sangat terpukul dengan korban besar dan hancurnya sebagian besar instalasi dan fasilitas militer, bahkan mesin untuk memproduksi senjata mereka.
Ukuran kemenangan Iran dilihat dari wujud Pemerintah Teokratik Syiah yang didukung oleh Tentara Revolusi (IRGC) tetap bertahan efektif. Selain itu, Iran juga dapat menguasai Selat Hormuz, yang sebelum perang berlangsung merupakan alur pelayaran internasional terbuka. Dalam kondisi demikian, meskipun mengalami korban jiwa dan material yang luar biasa, Iran tidak akan mau berunding dengan AS dan kehilangan kesempatan untuk “menang” dalam perang ini.
Opsi Dua: Trump menghancurkan berbagai infrastruktur vital Iran secara masif dan cepat pada akhir minggu ini. Sasaran utama serangan itu tampaknya adalah fasilitas migas Iran di Pulau Kharg, yang merupakan depot penyimpanan dan pengapalan 90 persen ekspor minyak Iran. Kemungkinan sasaran lainnya adalah salah satu pulau dekat Selat Hormuz untuk membebaskan pelayaran di selat tersebut dari kendali Iran. Untuk melaksanakan opsi ini, AS harus menerjunkan pasukannya yang memang sudah disiapkan, tidak cukup hanya dengan serangan udara. Saat ini setidaknya sudah ada sekitar 5.000 anggota pasukan marinir dan 1.000 infantri AS di kawasan itu. Seluruh pasukan marinir dan infantri tersebut berada di pangkalan laut maupun udara AS di negara-negara GCC dan Yordania.
Jika opsi ini yang diambil, risiko yang dihadapi Trump sangat besar. Iran sudah menyampaikan ancaman bahwa jika AS menerjunkan pasukannya ke daratan Iran, maka Iran akan membalas dengan menyerang, termasuk menerjunkan pasukannya ke pesisir negara-negara GCC. Sedangkan untuk membalas serangan yang menghancurkan infrastruktur listrik dan energinya, Iran juga akan membalas dengan serangan serupa ke negara-negara GCC, ditambah serangan pasukan Houthi ke pelayaran di Selat Bab al-Mandab di Laut Merah, maupun serangan dari sekutu Iran di Lebanon, Irak, Suriah, dan negara-negara lainnya.
Selain itu, AS juga harus menanggung dua risiko besar lainnya, yaitu jatuhnya korban pasukannya dalam perang terbuka di darat yang sangat sensitif bagi politik dalam negeri Trump dan Partai Republik, terutama menjelang Pemilu Legislatif; serta kemungkinan perang menjadi sangat berkepanjangan dan meluas secara horizontal ke seluruh kawasan Timur Tengah, yang sama sekali tidak diinginkan oleh Trump maupun basis MAGA/America First pendukungnya.
Opsi Tiga: Trump menghentikan perang dan mengumumkan bahwa AS telah “memenangkan” perang dengan Iran karena telah menewaskan mayoritas pimpinan Pemerintah dan Militer Iran, menghancurkan Angkatan Laut dan Angkatan Darat Iran, hampir seluruh misil dan drone serta pusat-pusat produksi dan peluncurannya, serta sebagian besar fasilitas pengayaan uranium yang dapat digunakan sebagai bahan senjata nuklir oleh Iran. Karena telah mencapai tujuannya, AS dapat menghentikan perang dengan Iran, terlepas dari tidak terjadinya pergantian rezim pemerintahan di Tehran maupun penguasaan Selat Hormuz oleh Iran.
Dari sisi risiko politik dalam negeri AS, opsi ini akan memberikan dampak paling kecil karena harga minyak dipastikan akan turun meskipun tidak ke tingkat sebelum perang berlangsung. Pasar keuangan akan rebound, dan Partai Republik akan memasuki kampanye Pemilu Legislatif dengan perang Iran yang telah usai. Namun, dari segi geopolitik, risiko ini sangat besar bagi Amerika Serikat, Timur Tengah, maupun dunia.
AS akan kehilangan muka di dunia internasional karena dianggap kalah perang dari Iran. Konsekuensinya, AS akan semakin menarik diri dari kawasan-kawasan global dan fokus kepada kawasan Amerika Utara dan Selatan dengan menjalankan kebijakan isolasionismenya yang memang menjadi tema kampanye presidensi Trump tahun 2024. Di dalam negeri AS, kondisi ini dapat memberikan peluang bagi Wapres JD Vance yang pro-isolasionisme dan anti-perang menjadi kandidat kuat Pilpres 2028, mengalahkan potensi saingannya seperti Menlu Marco Rubio yang terlihat lebih interventionist.
Untuk kawasan Timur Tengah, akan terbentuk peta politik baru. Iran akan menjadi negara adidaya kawasan yang semakin disegani. Negara-negara GCC akan membatasi keberadaan pangkalan militer AS, bahkan mungkin menutupnya karena menghadapi tantangan di dalam negeri masing-masing. Di Israel, yang juga akan menjalani pemilu pada tahun ini, tampaknya tidak akan mengalami perubahan mendasar di dalam negeri. Namun, secara internasional posisi Israel akan sangat terdampak. Penarikan diri AS, sekutu utama Israel, dari kawasan Timur Tengah akan mempengaruhi keseimbangan kekuatan di kawasan tersebut yang merugikan posisi Israel. Selain itu, dapat dipastikan hampir tidak akan ada lagi negara lain yang ingin terlihat berhubungan erat dengan Israel, baik di kawasan maupun secara global.
Baca Juga: Peluang Perundingan AS dan Iran Masih Penuh Ketidakpastian
Probabilitas
Sebagian besar orang menduga atau mengharapkan bahwa Trump akan memilih Opsi Tiga, yaitu menyatakan AS telah menang perang dan menghentikannya dengan segera. Namun, ditinjau dari sisi pribadi Trump, hal ini memiliki risiko yang sangat besar. Ia akan kehilangan statusnya sebagai pusat perhatian dunia yang tampaknya bukan hanya sangat dinikmatinya, tetapi merupakan bagian tak terpisahkan dari karakternya.
Selain itu, jika opsi ini yang dipilih Trump, reputasi AS akan tergerus dalam persaingan geopolitik yang sangat diperlukan oleh Trump untuk memenangkan persaingan geoekonomi dalam keunggulan teknologi AI, penguasaan tambang mineral kritis dan akses energi, penempatan pusat-pusat logistik, serta persaingan strategis lainnya melawan RRT. Hal ini tentu sulit dilakukan oleh Trump yang mempertaruhkan supremasi geoekonomi di atas segalanya, terutama menjelang kunjungan resminya ke Beijing pada pertengahan bulan depan.
Menilai risiko-risiko Opsi Tiga ini dari sisi Trump, maka dapat dipahami alasannya untuk lebih memilih pengakhiran perang melalui perundingan. Dengan perundingan, AS tidak akan kehilangan reputasi sebesar pada opsi tiga, bahkan masih tetap dapat menyombongkan diri mengatakan memenangkan perang. Namun, pertanyaannya adalah apakah Iran bersedia menerima opsi ini? Apa justifikasi Iran menerimanya setelah begitu gigih menyatakan tidak akan bisa mempercayai AS lagi?
Kemungkinannya adalah sebagian dari lima prasyarat perundingan yang diajukan Iran dapat diterima AS sebagai butir-butir yang akan dirundingkan, yakni: 1) jaminan tidak akan ada serangan lagi di masa depan; 2) kompensasi terhadap kerugian yang terjadi selama perang dan pencabutan sanksi; 3) penerapan sistem baru pengawasan Selat Hormuz. Jika ditambah dengan pemenuhan isyarat permintaan Iran bahwa Tim Negosiasi AS akan dipimpin langsung oleh Wapres JD Vance, maka probabilitas dimulainya perundingan atau Opsi Satu akan semakin mengemuka.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Amry Nur Hidayat
Tag Terkait: