Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Impor RI Melonjak 14,44% ke US$42,09 Miliar, Bahan Baku Mendominasi

        Impor RI Melonjak 14,44% ke US$42,09 Miliar, Bahan Baku Mendominasi Kredit Foto: Antara/M Risyal Hidayat
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai impor Indonesia pada Januari–Februari 2026 mencapai US$42,09 miliar atau naik 14,44 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, didorong peningkatan impor nonmigas.

        “Nilai impor Indonesia Januari–Februari 2026 mencapai US$42,09 miliar atau naik 14,44 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya,” kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono di Jakarta, Rabu (1/4/2026).

        Impor nonmigas tercatat sebesar US$36,93 miliar atau meningkat 17,49 persen secara tahunan. Sementara itu, impor migas turun 3,50 persen menjadi US$5,16 miliar. 

        Pada Februari 2026, impor mencapai US$20,89 miliar atau naik 10,85 persen dibandingkan Februari 2025. Impor nonmigas naik lebih tinggi sebesar 18,24 persen menjadi US$18,90 miliar. 

        Dari sisi komoditas, peningkatan terbesar terjadi pada mesin/peralatan mekanis dan bagiannya yang naik 31,38 persen. Kenaikan juga terjadi pada mesin elektrik, logam mulia, serta produk kimia. Sebaliknya, bahan kimia organik mengalami penurunan terdalam sebesar 14,14 persen. 

        Berdasarkan negara asal, impor nonmigas terbesar berasal dari Tiongkok sebesar US$15,68 miliar atau 42,46 persen dari total impor nonmigas. Disusul Australia dan Singapura masing-masing sebesar US$2,07 miliar dan US$2,00 miliar. 

        Baca Juga: BPS: Ekspor RI Naik 2,19% Jadi US$44,32 Miliar

        Baca Juga: Purbaya Kaji Pajak Tambahan untuk Produk Impor China di Platform E-commerce

        Baca Juga: RI Buka Opsi Impor Minyak dari Rusia Hingga Brunei

        Menurut penggunaan, impor didominasi bahan baku/penolong sebesar US$29,40 miliar atau 69,84 persen dari total impor. Barang modal menyumbang 21,61 persen, sementara barang konsumsi sebesar 8,55 persen. 

        Kenaikan impor tersebut masih diimbangi surplus neraca perdagangan sebesar US$2,23 miliar pada Januari–Februari 2026, yang berasal dari surplus nonmigas US$5,42 miliar, sementara sektor migas mengalami defisit US$3,19 miliar.  

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Annisa Nurfitri

        Bagikan Artikel: