Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

‘Tanpa Saya, Anda Sudah Dipenjara,’ Netanyahu Diamuk Trump Gegara Rusak Upaya Negosiasi Amerika-Iran

‘Tanpa Saya, Anda Sudah Dipenjara,’ Netanyahu Diamuk Trump Gegara Rusak Upaya Negosiasi Amerika-Iran Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Ketegangan hubungan antara Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dilaporkan mencapai titik panas setelah Israel meningkatkan operasi militernya di Lebanon.

Dikutip dari Axios, kemarahan Trump disebut bukan semata-mata soal serangan Israel terhadap kelompok Hizbullah, melainkan karena langkah Netanyahu dinilai berpotensi menghancurkan agenda diplomatik Washington yang tengah berusaha mencapai kesepakatan dengan Iran.

Baca Juga: 'Negosiasi Jadi Lebih Sulit,' Kritik Publik Amerika Soal Perang Iran Ternyata Ganggu Trump

Dalam percakapan telepon yang diungkap sejumlah sumber pemerintah Amerika Serikat, Trump bahkan melontarkan pernyataan keras kepada Netanyahu. Presiden AS itu disebut menyinggung persoalan hukum yang selama ini membayangi pemimpin Israel tersebut.

Menurut sumber yang mengetahui isi pembicaraan, Trump mengatakan Netanyahu seharusnya berterima kasih karena dukungan politik Amerika telah membantu mempertahankan posisinya di tengah berbagai persoalan hukum yang dihadapi.

Salah satu sumber menyebut Trump secara langsung mengatakan bahwa Netanyahu bisa saja berada di penjara apabila tidak mendapatkan dukungan dari dirinya. Pernyataan itu merujuk pada kasus korupsi yang masih membayangi karier politik Netanyahu di Israel.

Ledakan emosi Trump terjadi ketika pemerintah Israel mengancam akan memperluas serangan hingga ke Beirut, ibu kota Lebanon. Washington menilai langkah tersebut berisiko memperburuk situasi kawasan dan mengancam proses negosiasi yang sedang berlangsung dengan Iran.

Bagi Trump, keberhasilan diplomasi dengan Teheran merupakan salah satu target strategis yang ingin dicapai pemerintahannya. Karena itu, setiap eskalasi militer yang dapat memicu konflik lebih luas dianggap sebagai hambatan serius.

Sejumlah pejabat AS mengungkapkan bahwa Trump menilai respons Israel terhadap ancaman Hizbullah mulai bergerak ke arah yang tidak proporsional. Selain ancaman terhadap Beirut, perluasan operasi darat Israel di Lebanon juga menjadi sumber kekhawatiran Washington.

Gedung Putih disebut semakin tidak nyaman dengan tingginya jumlah korban sipil yang muncul akibat operasi militer Israel. Trump dikabarkan mempertanyakan efektivitas strategi yang dilakukan Tel Aviv ketika bangunan-bangunan sipil dihancurkan hanya untuk memburu satu target militan.

Tekanan dari Washington tampaknya membuahkan hasil. Setelah percakapan tersebut, rencana serangan Israel ke Beirut dilaporkan tidak dilanjutkan. Seorang pejabat Israel mengonfirmasi bahwa opsi tersebut untuk sementara tidak lagi masuk agenda militer.

Meski demikian, Netanyahu tetap menegaskan posisi negaranya tidak berubah. Pemerintah Israel menyatakan operasi terhadap Hizbullah akan terus berlangsung selama kelompok tersebut masih melancarkan serangan.

Insiden ini memperlihatkan bahwa hubungan pribadi yang selama ini dikenal dekat antara Trump dan Netanyahu tidak selalu berjalan mulus. Bahkan sejumlah pejabat AS menyebut percakapan terbaru tersebut sebagai salah satu komunikasi paling tegang antara kedua pemimpin sejak Trump kembali menjabat.

Baca Juga: Oman dalam Bidikan Amerika, Tinggalkan Iran atau Terancam Sanksi hingga Aksi Militer

Di tengah memanasnya konflik Lebanon, Trump tampaknya berusaha memastikan bahwa prioritas diplomasi Amerika terhadap Iran tidak runtuh akibat langkah militer sekutunya sendiri. Bagi Washington, menjaga jalur negosiasi tetap terbuka kini menjadi kepentingan yang tidak kalah penting dibandingkan dukungan terhadap keamanan Israel.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Aldi Ginastiar