Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Strategi China Menggerogoti Wibawa Dolar di Saat Krisis Energi

        Strategi China Menggerogoti Wibawa Dolar di Saat Krisis Energi Kredit Foto: Istimewa
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira menyebut krisis minyak global dan ketegangan geopolitik saat ini justru menjadi katalis penguatan mata uang China, yuan.

        Kondisi ini dinilai memicu pergeseran besar dalam perdagangan energi dunia dari dominasi dolar Amerika Serikat (AS) menuju era yang disebutnya sebagai "petro yuan".

        Menurut Bhima, pergeseran lanskap ekonomi ini paling nyata terlihat dari pola perdagangan minyak Iran yang semakin condong ke China. Di tengah memanasnya ketegangan di Selat Hormuz, tercatat sekitar 90 persen ekspor minyak Iran kini mengalir ke Negeri Tirai Bambu tersebut.

        Untuk menghindari sanksi ekonomi dari negara-negara Barat, transaksi perdagangan minyak tersebut tidak lagi mengandalkan dolar AS, melainkan mewajibkan pembayaran menggunakan yuan.

        "Ini disebut petro yuan, bukan lagi era petrodollar,” tegas Bhima.

        Langkah Iran tersebut dinilai sebagai bentuk strategi dedolarisasi yang terbukti efektif sebagai instrumen pertahanan ekonomi.

        Dengan menggunakan yuan, negara-negara yang berseberangan dengan Barat dapat secara signifikan mengurangi ketergantungan mereka terhadap sistem keuangan global yang selama ini didominasi oleh dolar AS.

        Lebih lanjut, Bhima memproyeksikan bahwa tren penggunaan yuan tidak akan berhenti pada sektor bahan bakar fosil saja, melainkan akan meluas secara agresif ke sektor energi terbarukan.

        Ia mencontohkan produk modul panel surya produksi China yang saat ini mendominasi pasar global dengan harga yang semakin murah.

        Dalam praktiknya, transaksi pembelian komponen energi hijau ini oleh negara berkembang, seperti Pakistan, juga berpotensi besar menggunakan yuan.

        "Ke depan bukan cuma minyak, tapi juga energi terbarukan. Modul panel surya dari China akan makin banyak dibeli dengan yuan,” ungkapnya.

        Fenomena ini menjadi tantangan serius bagi pilar utama dominasi dolar AS di pasar global yang sudah mapan selama ini. Bhima juga menyoroti langkah Presiden AS Donald Trump yang justru banyak melakukan kesalahan dalam menyikapi cara China menggerogoti wibawa mata uang dolar.

        "Rahasianya ada di transaksi energi menggunakan yuan China,” pungkas Bhima.

        Jika tren dedolarisasi di sektor energi ini terus berlanjut, lanskap ekonomi dan perdagangan global dipastikan akan mengalami pergeseran kekuatan yang sangat signifikan dalam beberapa tahun mendatang.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Ferry Hidayat

        Bagikan Artikel: