Kredit Foto: Antara/Muhammad Mada
Ketahanan pangan nasional menghadapi tekanan berlapis sepanjang 2026. Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) dalam laporan Monitoring Issue of Food, Energy and Sustainable Development Maret 2026 memperingatkan bahwa kombinasi risiko iklim ekstrem, eskalasi geopolitik, dan persoalan distribusi domestik berpotensi mendorong inflasi pangan lebih luas tahun ini.
Tekanan tersebut muncul dari tiga faktor utama, yakni potensi El Niño 2026, lonjakan biaya input pertanian akibat konflik geopolitik global, serta pola kenaikan harga pangan musiman yang berulang setiap tahun.
INDEF mencatat produksi padi nasional dalam beberapa tahun terakhir cenderung stagnan sehingga rentan terhadap guncangan iklim. Data dalam laporan menunjukkan produksi padi periode 2019–2024 relatif datar sebelum meningkat pada 2025. Namun, peningkatan tersebut dinilai belum cukup menjadi bantalan menghadapi potensi El Niño 2026.
Risiko El Niño diperkirakan berdampak pada pergeseran musim tanam, penurunan produktivitas, serta potensi kenaikan harga beras akibat berkurangnya pasokan domestik. Dalam kondisi tersebut, pemerintah berpotensi menghadapi dilema kebijakan antara membuka impor atau menjaga stabilitas harga domestik.
Tekanan juga datang dari eskalasi geopolitik global yang mendorong kenaikan harga energi. INDEF mencatat gangguan distribusi gas alam berpotensi meningkatkan harga pupuk global karena gas merupakan bahan baku utama produksi pupuk nitrogen dan urea.
Harga kontrak berjangka urea dilaporkan sempat mencapai sekitar US$684 per ton, tertinggi sejak Oktober 2022, dan meningkat lebih dari 70% sejak awal tahun. Selain itu, kawasan Teluk menyumbang sekitar 46% pasokan urea global sehingga gangguan distribusi di wilayah tersebut berpotensi meningkatkan biaya produksi pertanian global.
Untuk Indonesia, tekanan tersebut diperkuat oleh pelemahan nilai tukar serta ketergantungan terhadap impor pupuk. INDEF menilai alokasi subsidi pupuk sebesar Rp46,9 triliun dalam APBN 2026 berisiko tidak cukup menahan tekanan biaya internasional, sehingga dapat meningkatkan biaya produksi dan memicu inflasi pangan.
Selain faktor global dan iklim, INDEF juga menyoroti pola kenaikan harga pangan musiman, khususnya pada periode Ramadan. Pada Ramadan 2026, harga cabai rawit tercatat meningkat 8,75% dan cabai merah naik 9,64% secara bulanan.
INDEF menilai kebijakan stabilisasi harga masih berfokus pada sisi permintaan melalui pasar murah dan subsidi transportasi, sehingga dampaknya cenderung sementara. Tanpa perbaikan distribusi dan penguatan pasokan, tekanan harga dinilai berpotensi berlanjut bahkan setelah periode Ramadan.
Baca Juga: INDEF: WFH ASN Satu Hari Per Minggu Mampu Hemat Kas Negara Rp2 Triliun
Baca Juga: Harga Komoditas dan Energi Melejit, Defisit APBN Bisa Tembus 4%
Menurut INDEF, kombinasi tekanan iklim, geopolitik, dan distribusi domestik berpotensi meningkatkan risiko inflasi pangan secara sistemik. Kondisi ini dapat berdampak terhadap daya beli masyarakat serta stabilitas ekonomi nasional sepanjang 2026.
INDEF mendorong pemerintah memperkuat manajemen distribusi, meningkatkan ketahanan produksi domestik, serta mengantisipasi lonjakan biaya input pertanian guna menjaga stabilitas pangan nasional.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Annisa Nurfitri