Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        ESDM Ungkap Warga RI Mulai 'Diet' Bensin Subsidi, BBM Umum Melejit

        ESDM Ungkap Warga RI Mulai 'Diet' Bensin Subsidi, BBM Umum Melejit Kredit Foto: Antara/Rony Muharrman
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Peta konsumsi bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia mencatatkan fenomena menarik di awal tahun 2026.

        Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkapkan adanya tren penurunan konsumsi bensin bersubsidi atau Jenis BBM Khusus Penugasan (JBKP), sementara penggunaan BBM non-subsidi justru menunjukkan peningkatan signifikan.

        Sekretaris Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Ditjen Migas) Muhammad Rizwi Jilanisaf Hisjam mengungkapkan pergeseran ini dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi XII DPR.

        Data pemerintah menunjukkan masyarakat mulai mengurangi ketergantungan pada subsidi bensin.

        “Apabila kami rinci berdasarkan jenis minyak bensin, kebutuhannya adalah sebagai berikut."

        "Kebutuhan minyak bensin jenis JBKP atau yang bersubsidi tahun 2025 sebesar 76.932 kiloliter per hari, dan tahun 2026 sampai dengan Februari posisinya turun menjadi 74.407 kiloliter per hari,” ungkap Muhammad Rizwi Jilanisaf Hisjam dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi XII DPR, Rabu (8/4/2026).

        Penurunan serapan bensin subsidi yang mencapai sekitar 2.500 kiloliter per hari ini berbanding terbalik dengan kinerja bensin non-subsidi atau BBM Umum.

        Rizwi mencatatkan adanya pertumbuhan permintaan pada sektor bensin komersial tersebut.

        “Sedangkan kebutuhan minyak bensin jenis BBM umum atau non subsidi tahun 2025 sebesar 24.055 kiloliter per hari, atau naik menjadi 25.254 kiloliter per hari pada posisi 2026 sampai dengan Februari,” bebernya.

        Meski konsumsi domestik menunjukkan pergeseran ke arah BBM non-subsidi, tantangan besar masih membayangi ketahanan energi nasional.

        Rizwi blak-blakan menyebut sebagian besar bensin yang dibakar di jalanan Indonesia masih merupakan barang impor.

        Ia memaparkan, pada tahun 2025, impor bensin mendominasi hingga 60,18% dari total kebutuhan harian.

        Baca Juga: Menkeu Purbaya: Kebijakan Tahan Harga BBM 2026 Adalah Instruksi Presiden

        Sedangkan untuk tahun 2026, angka tersebut diprediksi masih berada di level tinggi, yakni sekitar 59%.

        “Di mana untuk importasi minyak bensin yang paling dominan ini berasal dari Singapura dan Malaysia, karena posisi kebutuhan bensin sampai saat ini masih membutuhkan importasi,” imbuh Rizwi. (*)

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
        Editor: Yaspen Martinus

        Bagikan Artikel: