Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Nyaris Swasembada! RI Berhasil Pangkas Impor Solar Hingga Sisa 6%

        Nyaris Swasembada! RI Berhasil Pangkas Impor Solar Hingga Sisa 6% Kredit Foto: Antara/Fransisco Carolio
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melaporkan pencapaian signifikan dalam penyediaan pasokan energi nasional.

        Pemerintah berhasil menekan angka impor bahan bakar solar (Solar) hingga ke level 6,26%, di tengah tren peningkatan konsumsi harian di sektor transportasi dan logistik.

        Sekretaris Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi Muhammad Rizwi Jilanisaf Hisjam menjelaskan, sektor diesel nasional menunjukkan dinamika yang positif jika dibandingkan komoditas bensin.

        Meskipun permintaan domestik terhadap solar meningkat, ketergantungan pada pasar global justru berhasil diminimalisir secara berkelanjutan.

        “Untuk minyak solar, terdapat dinamika yang sedikit berbeda, khususnya dari sisi impor."

        "Untuk minyak solar kebutuhan relatif meningkat, namun impor berhasil ditekan dari 12,17% di tahun 2025, menjadi hanya 6,26% di tahun 2026 sampai dengan Februari 2026,” ungkap Rizwi dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi XII DPR, Rabu (8/4/2026).

        Berdasarkan data operasional Ditjen Migas, total kebutuhan solar nasional tercatat mencapai 111.356 kiloliter (KL) per hari pada periode awal tahun 2026, naik tipis dari rata-rata tahun 2025, yaitu sebesar 110.932 KL per hari.

        Peningkatan ini dipicu oleh pertumbuhan konsumsi solar bersubsidi atau Jenis BBM Tertentu (JBT).

        “Apabila dirinci berdasarkan jenis minyak solar, kebutuhan jenis minyak solar JBT atau subsidi tahun 2025 sebesar 50.466 kiloliter per hari, naik menjadi 52.373 kiloliter per hari pada tahun 2026 sampai dengan posisi Februari,” papar Rizwi.

        Kondisi sebaliknya terjadi pada segmen solar non-subsidi yang melayani sektor industri dan komersial.

        Data Ditjen Migas menunjukkan adanya penurunan permintaan pada kategori ini dari 60.466 KL per hari pada tahun 2025, menjadi 58.983 KL per hari pada awal tahun 2026.

        Meski porsi produksi domestik semakin mendominasi, pemerintah tetap mempertahankan kerja sama importasi untuk menjaga ketahanan stok nasional (stok penyangga).

        Baca Juga: B50 Resmi Berlaku Juli 2026, Bahlil Klaim Solar Bakal Surplus

        Untuk sisa kebutuhan sebesar 6,26% yang belum tertutup produksi kilang dalam negeri, Indonesia masih mengandalkan pasokan dari negara mitra di kawasan regional.

        “Di mana importasinya juga paling dominan berasal dari Singapura dan Malaysia, baik tahun 2025 maupun 2026,” ucap Rizwi. (*)

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
        Editor: Yaspen Martinus

        Bagikan Artikel: