6 Fakta Menarik Tentang Sepatu Lari yang Ringan
Kredit Foto: Istimewa
Apakah benar sepatu lari yang lebih ringan bisa membuat Anda berlari lebih cepat? Pertanyaan ini sudah lama menjadi perdebatan di komunitas pelari, dan kini jawabannya sudah didukung oleh penelitian ilmiah yang cukup kuat.
Ada banyak fakta menarik di balik desain dan teknologinya yang langsung berdampak pada performa berlari. Di tahun 2025, brand-brand ternama seperti Nike, Adidas, Asics, Puma, hingga New Balance berlomba-lomba menghadirkan sepatu lari dengan bobot seringan mungkin tanpa mengorbankan cushioning dan proteksi.
Buat Anda yang sedang mengincar sepatu lari ringan berkualitas, manfaatkan promo adidas adizero dan promo lain seperti promo Tengah Bulan Cuan April Sport di Blibli yang menawarkan Diskon 20% hingga Rp1.000.000 untuk produk olahraga pilihan. Namun, sebelum memutuskan untuk mebelinya, simak dulu 6 fakta menarik tentang sepatu lari ringan berikut yang sayang untuk dilewatkan!
1. Setiap 100 Gram Tambahan Bobot Sepatu Memperlambat Lari hingga 1%
Penelitian dari University of Colorado Boulder pada 2016 membuktikan bahwa setiap penambahan 100 gram pada bobot sepatu meningkatkan waktu tempuh berlari rata-rata 0,78%. Hal ini juga sejalan dengan eksperimen Nike di tahun 1980-an. Untuk pelari marathon elite, memakai sepatu 100 gram lebih ringan berpotensi memotong waktu tempuh sampai 57 detik, perbedaan yang sangat berarti di tingkat kompetisi.
Studi biomekanik terbaru pada 2024 juga menemukan sepatu ringan bisa mengurangi waktu sprint 10 meter hingga 1,8% dibanding sepatu berat. Jadi, bobot sepatu adalah variabel performa nyata dan terukur, bukan hanya persepsi semata.
2. Material PEBA Foam Adalah Teknologi Paling Ringan dan Responsif Saat Ini
PEBA (Polyether Block Amide) foam adalah material midsole generasi terbaru yang digunakan pada sepatu lari elite. Material ini lebih ringan, responsif, dan lentur dibanding EVA foam konvensional. Nike mengaplikasikannya sebagai ZoomX foam di lini Vaporfly dan Alphafly, sementara Adidas mengembangkan varian serupa untuk seri Adizero Pro.
Energy return PEBA foam mencapai sekitar 85%, jauh di atas EVA standar yang hanya sekitar 60–65%. Artinya, lebih banyak energi yang didapat dari pendaratan kaki akan kembali ke langkah selanjutnya.
Kekurangannya, PEBA foam lebih cepat aus dengan usia pakai sekitar 300–500 km. Pada 2025, produk populer dengan teknologi ini adalah Nike ZoomX Vaporfly Next% 4 dan Adidas Adizero Adios Pro 4.
3. Carbon Fiber Plate Bukan Gimmick
Sepatu berteknologi carbon plate kini menjadi standar untuk race-day di kompetisi jarak jauh elite. Pelat karbon yang tertanam dalam midsole sepatu race-day berfungsi seperti pegas yang menyimpan energi saat kaki mendarat dan melepaskannya saat toe-off. Ini meningkatkan efisiensi langkah secara mekanis. Bobot tambahan carbon plate hanya sekitar 10–15 gram, sebuah tradeoff yang sangat menguntungkan.
4. Sepatu Lari Ringan Terbukti Meningkatkan Running Economy
Running economy adalah ukuran efisiensi energi, yaitu berapa banyak oksigen dan kalori yang dibutuhkan untuk berlari pada kecepatan tertentu. Semakin baik running economy, makasemakin efisien pelari tersebut.
Lebih lanjut, pelari dengan volume latihan tinggi, seperti 50+ km per minggu, akan mendapatkan penghematan energi yang signifikan dari waktu ke waktu. Jadi, investasi pada sepatu lari ringan berkualitas dapat langsung meningkatkan efisiensi dan performa jangka panjang.
5. Teknologi Upper Seamless dan Engineered Mesh Berkontribusi Besar pada Bobot Ringan
Bobot ringan pada sepatu lari tidak hanya dari midsole, tapi juga dari konstruksi upper. Penggunaan engineered mesh dan one-piece seamless construction mengurangi bobot upper hingga 30–40% dibanding konstruksi tradisional. Selain itu, manfaat lainnya adalah meningkatkan ventilasi sehingga kaki lebih segar dan tidak cepat panas saat lari jauh.
6. Sepatu Lari Ringan Tidak Selalu Cocok untuk Semua Pelari
Meski sepatu ringan terbukti meningkatkan performa, tidak semua pelari dapat langsung menggunakannya secara efektif. Pelari pemula atau mereka dengan kondisi biomekanik tertentu harus berhati-hati.
Rekomendasi untuk pelari pemula adalah mulai dengan sepatu training berbobot 260–290 gram, lalu secara bertahap meningkatkan volume latihan selama 8–12 minggu sebelum beralih ke sepatu race ringan.
Memilih sepatu ringan yang tepat memerlukan ilmu pengetahuan, pemahaman tentang gaya lari, dan tentu saja perencanaan anggaran. Hal ini karena dunia sepatu lari ringan ternyata jauh lebih kompleks dan menarik dari yang terlihat. Jadi, penting untuk dipahami sebelum Anda memilih sepatu lari.
Temukan sepatu lari ringan terbaik dari brand-brand premium dunia di Blibli Official Store sekarang juga! Manfaatkan promo Tengah Bulan Cuan April Sport dengan Diskon 20% hingga Rp1.000.000 untuk produk olahraga pilihan seperti sepatu lari dari Nike, Adidas, Asics, Puma, New Balance, dan lainnya. Belanja di Blibli menjamin keaslian produk 100%, garansi distributor, berbagai ukuran pilihan, dan opsi cicilan 0%. Kunjungi Blibli sekarang dan gunakan kesempatan promo ini untuk upgrade sepatu larimu ke level berikutnya!
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Amry Nur Hidayat
Tag Terkait: