Akan Terus Kecam Operasi Amerika Serikat, Balasan Paus Leo ke Trump: Jangan Salahgunakan Pesan Injil
Kredit Foto: Reuters
Vatikan membalas tegas serangan yang dilakukan oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Ia memperingatkan agar nilai-nilai religius tak disalahgunakan dalam perang dari Washington.
Pemimpin Gereja Katolik, Pope Leo menegaskan bahwa dirinya akan terus menyuarakan penolakan terhadap perang, meski mendapat serangan langsung dari Trump. Ia menekankan bahwa misinya adalah mendorong perdamaian dan dialog global, bukan terlibat dalam perdebatan politik.
Baca Juga: Soal Kelanjutan Negosiasi Iran-Amerika Serikat, Wapres Trump: Bola Ada di Teheran
"Saya tidak ingin berdebat dengannya. Pesan Injil tidak dimaksudkan untuk disalahgunakan seperti yang dilakukan beberapa orang," kata Leo.
Leo menegaskan akan terus berbicara lantang menentang perang dan mempromosikan solusi damai. Ia akan terus mendorong dialog antarnegara, kerja sama multilateral dan penyelesaian konflik secara adil.
“Saya akan terus bersuara lantang menentang perang, berupaya mempromosikan perdamaian, mendorong dialog dan hubungan multilateral antar negara untuk mencari solusi yang adil bagi permasalahan,” katanya.
Paus juga menyoroti dampak kemanusiaan dari konflik yang terjadi dalam berbagai belahan dunia. Ia menekankan perlunya pendekatan yang lebih baik dalam menyelesaikan konflik global.
"Terlalu banyak orang menderita di dunia saat ini. Terlalu banyak orang tak bersalah yang dibunuh. Dan saya pikir seseorang harus berdiri dan berkata: 'Ada jalan yang lebih baik'," kata Leo.
Leo menegaskan bahwa perannya bukan sebagai aktor politik, melainkan sebagai pemimpin moral. Ia hanya ingin membawa pesan damai dan mengajak pemimpin dunia untuk menyuarakan kedamaian bagi dunia.
"Pesan gereja, pesan saya dan pesan dari Injil: Berbahagialah orang-orang yang membawa perdamaian. Saya tidak memandang peran saya sebagai seorang politikus," katanya.
Diketahui, Paus Leo menjadi salah satu tokoh yang vokal mengkritik perang dari Amerika Serikat, Israel dan Iran. Ia bahkan menyebut konflik tersebut sebagai kegilaan dalam seruan perdamaian sebelumnya, hal itu membuat geram Trump.
Trump menyebut sang paus sebagai sosok yang lemah dan tidak memiliki kemampun untuk berpolitik dalam ranah internasional. Ia juga menyatakan secara terbuka bahwa dirinya bukan penggemar Paus Leo XIV.
"Paus Leo lemah dan buruk dalam kebijakan luar negeri. Saya tidak menginginkan seorang paus yang mengkritik presiden karena saya melakukan persis apa yang menjadi tujuan saya dipilih di Amerika Serikat," ungkap Trump.
Trump juga mengatakan bahwa seharusnya posisi paus tak dimiliki oleh Leo. Menurutnya, Leo terpiliha karena dia merupakan warga negara dari Amerika Serikat. Vatikan menurutnya memilik sosok tersebut khusus untuk menahan ambisi dari Amerika Serikat.
"Leo seharusnya bersyukur karena, seperti yang semua orang tahu, dia adalah kejutan yang mengejutkan. Dia tidak ada dalam daftar calon paus, dan hanya ditempatkan di sana oleh Gereja karena dia orang dari Amerika. Mereka berpikir itu akan menjadi cara terbaik untuk menghadapi saya," tegas Trump.
Trump juga mengatakan bahwa jika dirinya bukan seorang presiden, maka gereja tidak mungkin memilih sosok dari Leo. Ia mengatakan bahwa sang paus harus segera memperbaiki sikapnya untuk fokus dengan urusan dari Gereja Katolik.
Baca Juga: Trump: Iran Menelepon, Ingin Buat Kesepakatan dengan Amerika Serikat
"Leo harus memperbaiki perilakunya sebagai paus, menggunakan akal sehat dan fokus untuk menjadi paus yang hebat, bukan seorang politisi. Hal itu sangat merugikannya dan, yang lebih penting, merugikan Gereja Katolik," ungkap Trump.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Aldi Ginastiar
Tag Terkait: