Walau Dihujani Kritik Trump, Paus Leo Serukan Dunia Lawan Korupsi dan Akhiri Perang Global
Kredit Foto: Reuters
Pemimpin Gereja Katolik, Pope Leo kembali menyerukan kepada para pemimpin dunia untuk memberantas korupsi dan menghentikan konflik global yang terus berlangsung. Hal ini terjadi di tengah hujan kritikan dari Amerika Serikat.
Paus menekankan pentingnya keadilan dan perdamaian sebagai fondasi utama tatanan dunia. Ia menyoroti bahaya dominasi kelompok kaya dan berkuasa dalam sistem global.
Baca Juga: Trump Tak Ungkap Biaya Konflik Iran-Amerika Serikat, Namun Ingin Anggaran Militer US$1,5 Triliun
“Sudah saatnya kita memeriksa hati nurani kita dan mengambil langkah maju yang berani. Agar perdamaian dan keadilan dapat terwujud, rantai korupsi harus dipatahkan. Hati harus dibebaskan dari dahaga akan keuntungan yang bersifat penyembahan berhala,” kata Leo.
Ia juga mengingatkan bahwa hukum harus melindungi masyarakat dari kepentingan sempit elite. Paus juga menegaskan bahwa keamanan tidak boleh mengabaikan hak asasi manusia.
Menurutnya, menjadi seorang pemerintah atau pemimpin artinya adalah berani untuk turun mendengarkan rakyat, menghadirkan kebijakan yang berpihak pada keadilan dan menjunjung tinggi hak asasi manusia.
Paus Leo juga menyoroti dampak perang terhadap generasi muda. Ia menyebut konflik global telah menghancurkan harapan mereka, menghambat pendidikan dan memicu penderitaan luas di dunia.
“Cukup sudah perang dengan segala penderitaan, kematian, dan pengungsian,” tegasnya.
Paus Leo menegaskan bahwa kepemimpinan sejati harus berakar pada nilai moral dan kemanusiaan. Ia mengatakan hal tersebut akan menjadi akar terciptanya perdamaian dunia.
“Keamanan adalah prioritas, tetapi harus selalu dijalankan dengan menghormati hak asasi manusia. Perdamaian sejati muncul ketika hukum berfungsi sebagai perlindungan yang aman terhadap keinginan orang kaya dan berkuasa,” kata Paus.
Paus Leo tidak mengkritik atau menyebut nama atau sosok manapun. Namun ia dalam beberapa hari terakhir telah menjadi sasaran kritik pemerintahan hingga Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
Ia sempat dikenal lebih tenang di awal masa kepemimpinannya, namun kini semakin vokal, terutama terkait konflik seperti perang dari Iran dan Washington. Hal itu membuat menjadi sasaran kritik dari Trump.
Sebelumnya, Trump kembali melontarkan kritik terhadap Pope Leo XIV. Ia menegaskan bahwa tokoh religius tersebut harusnya melihat ancaman dari jika senjata nuklir dimiliki oleh mereka. Ia juga menyebut bahwa puluhan ribu warga sipil tewas akibat represi terhadap demonstrasi yang dilakukan oleh Teheran.
"Bisakah seseorang memberi tahu paus bahwa mereka telah membunuh setidaknya 42.000 demonstran tak bersenjata dan tidak bersalah dalam dua bulan terakhir, dan bahwa memiliki bom nuklir sama sekali tidak dapat diterima," kata Trump.
Trump juga menyebut sang paus sebagai sosok yang lemah dan tidak memiliki kemampun untuk berpolitik dalam ranah internasional. Ia juga menyatakan secara terbuka bahwa dirinya bukan penggemar Paus Leo XIV.
Adapun Wakil Presiden Amerika Serikat, James David Vance menegur tokoh religius tersebut agar lebih berhati-hati dalam menyampaikan pandangan teologis terkait dengan perang dan kedamaian dunia.
Vance rupanya tidak terima dengan pernyataan yang menyebut bahwa tuhan tidak pernah berada di pihak mereka yang menggunakan pedang atau menjatuhkan bom. Ia menilai pernyataan tersebut terlalu menyederhanakan realitas sejarah.
Ia juga meminta sang paus untuk berbicara berdasarkan fakta, bukan pandangan pribadinya terkait dengan perang dari Washington dan Teheran.
Baca Juga: Diskusi Sedang Berlangsung, Ini Kata Gedung Putih Soal Negosiasi Iran-Amerika Serikat
“Paus harus memastikan pendapatnya berlandaskan kebenaran, dan itulah salah satu hal yang saya coba lakukan, dan itu tentu saja sesuatu yang saya harapkan dari para pendeta, baik Katolik atau Protestan,” katanya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Aldi Ginastiar
Tag Terkait: