Diskusi Sedang Berlangsung, Ini Kata Gedung Putih Soal Negosiasi Iran-Amerika Serikat
Kredit Foto: Reuters/Jonathan Ernst
Amerika Serikat buka suara terkait dengan kemungkinan negosiasi lanjutan dengan Iran. Negosiasi tersebut akan menjadi penentu kelanjutan perang antara kedua negara di Timur Tengah.
Juru Bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, menegaskan bahwa pembicaraan tetap berjalan dan dinilai produktif. Menurutnya, terdapat kemungkinan besar terjadinya negosiasi lanjutan dari Iran dan Amerika Serikat.
Baca Juga: Ada China di Balik Kemampuan Iran Serang Pangkalan Amerika Serikat di Timur Tengah
“Diskusi ini terus berlangsung dan kami merasa baik dengan prospek tercapainya kesepakatan,” ujarnya.
Amerika Serikat juga membuka peluang untuk kembali hadir dalam negosiasi secara tatap muka. Menurut Leavitt, jika pembicaraan tatap muka kembali digelar, besar kemungkinan akan berlangsung di Pakistan.
"Saya juga melihat beberapa laporan tentang potensi diskusi tatap muka," kata Leavitt.
Belum ada kepastian terkait dengan kelanjutan negosiasi dari Iran dan Amerika Serikat. Namun Leavitt mengatakan bahwa pihaknya tengah melakukan diskusi terkait dengan pihak dari Teheran.
"Sekali lagi, diskusi-diskusi itu sedang berlangsung, tetapi belum ada yang resmi sampai ada laporan resmi dari kami di Gedung Putih. Namun kami merasa optimis tentang prospek kesepakatan," kata Leavitt.
Sebelumnya, Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa, Antonio Guterres, menyatakan bahwa peluang dimulainya kembali negosiasi untuk mengakhiri perang keduanya sangat besar. Ia kemungkinan akan kembali digelar di Pakistan.
"Indikasi yang kami miliki menunjukkan bahwa kemungkinan besar pembicaraan ini akan dimulai kembali," kata Guterres.
Guterres mengungkapkan bahwa ia telah bertemu dengan pejabat tinggi setempat, dan memuji peran negara tersebut dalam mendorong proses perdamaian. Pakistan sebelumnya menjadi tuan rumah pembicaraan dari Iran dan Amerika Serikat. Ia berperan sebagai mediator utama.
Diketahui, Pembicaraan Islamabad yang pertama gagal membuatkan kesepakatan antara Washington dan Teheran. Ia sendiri merupakan pertemuan langsung pertama dalam lebih dari satu dekade dari Iran dan Amerika Serikat. Ia juga merupakan dialog tingkat tertinggi sejak Revolusi Islam Iran 1979
Namun, perundingan tersebut gagal menghasilkan kesepakatan konkret untuk mengakhiri konflik. Menurut Washington, Iran menolak sejumlah tuntutan utama antara lain menghentikan seluruh pengayaan uranium, membongkar fasilitas nuklir utama dan menyerahkan stok uranium yang telah diperkaya.
Amerika Serikat diketahui juga meminta mereka untuk menghentikan dukungan terhadap kelompok seperti Hamas, Hezbollah dan Houthi. Ia juga menuntut adanya pembukaan penuh akses dari Selat Hormuz.
Iran di sisi lain melaporkan tuntutan yang berlebihan dari Amerika Serikat. Hal tersebut menjadi penghambat utama tercapainya kesepakatan. Neberapa isu sebenarnya telah mencapai titik temu, namun dua hal utama masih menjadi ganjalan yakni program nuklir hingga kontrol dan akses dari Selat Hormuz.
Baca Juga: Trump Kembali Serang Paus Leo, Kini Ungkit Soal Nuklir Iran
Teheran mengatakan bahwa pihaknya meragukan komitmen damai dari Amerika Serikat. Pihaknya telah menawarkan berbagai inisiatif “berpandangan ke depan”, namun hal tersebut malah direspons dengan agenda berbeda yang menghambat kesepakatan dari Washington.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Aldi Ginastiar
Tag Terkait:
Advertisement