Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Bahlil Ungkap Rusia Mau Bangun Kilang dan Storage di Indonesia

        Bahlil Ungkap Rusia Mau Bangun Kilang dan Storage di Indonesia Kredit Foto: ChatGPT/Al Musthafa Gustar's
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Pemerintah Indonesia mempercepat diversifikasi pasokan energi dengan menjajaki investasi strategis dari Rusia untuk pembangunan kilang minyak dan fasilitas penyimpanan (storage). Langkah ini diarahkan untuk memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus menekan ketergantungan impor bahan bakar minyak (BBM).

        Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia mengatakan komitmen tersebut merupakan tindak lanjut pertemuan Presiden Prabowo Subianto dengan Presiden Rusia Vladimir Putin.

        “Ya, kemarin seperti yang saya sampaikan di istana bahwa atas arahan Bapak Presiden, saya diminta untuk menindaklanjuti pertemuan dari dua pemimpin, Presiden Prabowo sama Presiden Putin dan dalam pertemuan saya dengan Menteri Energi dan Pemerintahan Rusia itu telah disepakati bahwa kita akan mendapat support dari Rusia,” ujar Bahlil kepada awak media di Kantor Kementerian ESDM, Jumat (17/4).

        Menurut dia, dukungan Rusia menjadi penting karena kebutuhan energi domestik masih jauh di atas kapasitas produksi nasional. Konsumsi BBM Indonesia saat ini mencapai sekitar 1,6 juta barel per hari atau setara 39-40 juta kiloliter per tahun. Sementara produksi minyak domestik baru sekitar 600 ribu barel per hari, sehingga Indonesia masih mengimpor sekitar 1 juta barel per hari.

        Untuk mengurangi impor tersebut, pemerintah mengandalkan peningkatan kapasitas kilang melalui proyek Refinery Development Master Plan Balikpapan serta implementasi mandatori biodiesel B50 mulai Juli 2026.

        “Sekarang bensin itu kita impor, totalnya konsumsi kita kan hampir 39-40 juta kiloliter. Dari situ produksi dalam negeri kita sebelum ada RDMP Balikpapan itu kan 14,3 juta KL. Penambahan RDMP Balikpapan itu kan 5,6-5,7 juta KL, jadi hampir 20 juta kiloliter, berarti impor kita tinggal 50 persen,” ungkapnya.

        Terkait investasi baru dari Rusia, Bahlil menyebut pemerintah masih mematangkan skema kerja sama yang akan ditempuh melalui mekanisme antarpemerintah (government to government/G2G) maupun antarperusahaan (business to business/B2B).

        Baca Juga: Bahlil Lahadalia Pastikan Impor Minyak dari Rusia Mulai April 2026

        Baca Juga: Kerja Sama Energi dengan Rusia Dinilai Taktis, tapi Perlu Diiringi Reformasi Sektor Domestik

        Baca Juga: Bahlil: Kontrak Migas dengan Rusia Lebih dari Setahun

        “Itu salah satu poin yang kemarin kita bicarakan, bahwa memang ada beberapa investasi mereka yang sudah siap untuk masuk, tetapi finalisasinya tunggu ada 1-2 putaran lagi dengan kami, khusus untuk menyangkut dengan kilang dan storage. Nanti baru kami akan sampaikan,” kata Bahlil.

        Ia menegaskan proyek yang sedang dijajaki berbeda dengan pengembangan Kilang Tuban yang merupakan kerja sama PT Pertamina (Persero) dengan Rosneft Oil Company.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Annisa Nurfitri

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: